Cinta? Halah!

05.34

Suatu hari aku pernah bertanya kepada bapak tentang arti dari kata cinta. Entahlah, aku tidak percaya kata orang lain, apalagi kata televisi. Melemahkan!

Kata bapak, cara laki-laki sejati untuk mencintai itu mendekati, menikahi, lalu menafkahi. Bukan memacari, menikmati, lalu pergi. Baiklah. Masuk akal. Tapi aku belum puas. Aku coba tanya ke Ibu tentang arti cinta menurut perspektifnya.

Kata Ibuku, cara laki-laki mencintai itu dengan tidak boleh sering berkata “terserah” pada pasangannya. Calon pemimpin ruma tangga harus bisa mengambil keputusan. Baiklah. Masuk akal. Tapi aku masih belum puas. Aku coba tanya ke adik perempuanku. Entahlah, selalu menyenangkan bermain di pikiran anak kecil.

Kata adikku, “kamu tidak bisa seenaknya menyembuhkan hatimu dengan menyakiti milik orang lain!” “Ah sialan!” umpatku. Adikku termakan doktrin televisi. Baiklah, jelas kali ini aku masih belum puas. Aku coba tanya pada diriku sendiri, lalu aku mulai membayangkan, suatu pagi nanti, aku dan kamu akan berbagi telur dadar, dengan hati yang berdebar, dan cinta yang berpendar. Sederhana sekali bukan?

Aku tertawa kecil, adikku berteriak, “Orang gila! Orang gila! Orang gila!” kepadaku.

“Cintai agamamu, dan kau akan menemukan cara mencintai seseorang dengan tepat.” Tiba-tiba sebuah suara menyambar. “Allah mengerti doa-doa kita, bahkan saat kita tidak menemukan kata untuk mengatakannya,” tambahnya. Aku tersenyum kecut, tapi bahagia. Aku rasa aku telah menemukan jawabannya.

Tiba-tiba aku terbangun, tersadar. “Jancuk! Besok sudah hari senin!”

Laptop masih menyala, buku-buku masih berserakan. Revisi skripsi belum aku kerjakan.

You Might Also Like

1 comments