Imajinasi



Apa yang Lidya lihat dengan apa yang saya lihat, jauh berbeda. Di depannya boleh saja hanya sebuah kunci motor. Tapi yang menarik, Lidya melihatnya sebagai imajinasi dan saya melihatnya sebagai realita. Ini yang membedakan orang dewasa dengan anak-anak seperti Lidya. Percayalah, dunia anak sangat menakjubkan!
.
Einstein pernah bilang, "Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there will be to know and understand."
.
Bikin pusing ya Bahasa Inggrisnya? Intinya, imajinasimu akan membawa ke banyak hal yang unik dan tak terbatas. Maka, sebisa mungkin kita jaga imajinasi kita walaupun kadang dibilang gendeng dan aneh sama orang. Biar kalau lagi main sama anak-anak, kita bisa "nyambung" ke dunianya. Biar kalau dewasa nanti, ia punya bekal untuk melihat dunia dengan cara yang menyenangkan.

azek.

Bocah Riang di Jiwaku



aku selalu salut pada siapa saja yang memelihara jiwa kanak-kanak dalam dirinya. jiwa kanak-kanak yang abadi selalu membuatku happy. imajinasi liar, rasa peduli dan penasaran tinggi, tingkah nggak kenal rasa takut, dan kasih sayang yang tulus. ooooooh!

wahai bocah riang di jiwaku, tetaplah seperti itu, meski waktu terus melaju dan keras hidup terus menghimpitmu, meski banyak orang bilang kelakuanmu layaknya anjing, sesungguhnya mereka lupa bahwa anjing akan setia mati, kalau diperlakukan dengan benar. 

ooh bocah riang di jiwaku, tahun-tahun masih menunggu, banyak pertemuan dan perpisahan menanti di depanmu. jadilah seorang visioner yang menikmati hari ini dan belajar dari sejarah.

ooh bocah riang di jiwaku, teruslah berjuang sekuatmu sampai kamu nggak usah bingung kapan ketemu jodohmu, tapi jodohmu yang bingung kapan ketemu kamu.

seperti kata Sutan Sjahrir, "hidup yang tak diperjuangkan, tak dapat dimenangkan." 

Mengenal Ibu

Dik, pernah nggak kamu berpikir tentang seberapa jauh kamu mengenal ibumu?

Apa kamu ingat hari ulang tahunnya atau tanggal pernikahannya? Apa kamu tahu model pakaian yang ia sukai? Apa kamu tahu warna favoritnya? Ukuran sepatunya? Jenis sepatu apa yang dia sedang inginkan? Makanan kesukaannya? Kebiasaannya ketika tidur? Hal apa yang sering ia ceritakan berulang kali? Hal apa yang membuatnya bahagia? Hal apa yang membuatnya sedih?

Aku rasa, setelah sekian tahun kita hidup, ternyata ada banyak hal yang mungkin kita tidak ketahui tentang ibu kita sendiri. Sedangkan ia? Hampir semua hal tentang kita dia ketahui

Dik, meski ibu kita sering disindir lewat meme yang dibuat orang-orang karena sering lupa mematikan lampu sign dan lupa memakai helm saat ia naik motor, tapi aku yakin ia akan ingat detail dimana letak gunting kuku, remote TV, kuncir rambut, kunci atau kacamata ketika kamu bertanya kebingungan. Hehehe, iya kan?

Nah dik, kalau ibumu sekarang masih hidup, jangan malu dan gengsi bilang sayang atau kangen sama ibu. Kalau ibu telepon, dengarkan ceritanya walau sudah diceritakan berkali-kali. Kalau ibu SMS, balas sesegera mungkin. Coba juga sesekali ajak ibumu jalan-jalan sambil iseng mengambil foto disana-sini. Awalnya memang repot, tapi toh waktu kita membersamainya juga terus berkurang karena ia juga terus menua. Who knows?

Ah, mungkin memang kita yang harus berubah ya dik? Mulai lebih memperhatikan hal detail tentang ibu kita. Jangan melulu membalas cinta pasangan karena cinta ibu lebih layak untuk kita balas. Kamu tahu kan rasanya cinta yang tak berbalas itu menyakitkan?

Lebaran


Dek, setelah sebulan penuh berpuasa, alhamdulillah akhirnya hari ini kita diberi kesempatan untuk merayakan hari kemenangan. Namun, apa iya kita benar-benar menang?

Apa kita benar-benar memanfaatkan bulan Ramadhan lalu sebaik mungkin untuk melatih diri kita sendiri untuk menahan hawa nafsu? Hawa nafsu itu banyak lho dek. Ada nafsu makan, nafsu amarah, nafsu seksual, dll. Apa kita sudah berhasil mengendalikan mereka? mengendalikan diri kita?

Kalau cuma menahan haus dan lapar sih, pengemis dan tuna wisma lebih jago daripada kamu. Lah kalau nafsu-nafsu yang lain? Susah lho dek. Kadang saya sendiri juga masih 'kecolongan' oleh nafsu-nafsu yang lain. Kalau kamu bagaimana?

Ah dek. Memang dasar manusia tempatnya berbuat dosa. Tinggal kita sendiri yang mau mencari kebenaran atau tidak. Jangan sampai kita mudah menyalahkan orang lain karena dosanya berbeda dengan kita.

Seperti kata Cak Nun, "Kalau kamu sudah merasa hidupmu benar dan orang lain salah, kalau shalat, Al Fatihah nggak usah dibaca lengkap. Ihdinassiratal mustaqiim nggak usah dibaca. Karena kita selalu mencari kebenaran, maka kita selalu Ihdinassiratal mustaqiim".

Ingat ya dek, lebaran itu ajang kita memperbarui diri. Bukan sebagai hari kebebasan untuk melakukan dosa seperti dulu lagi. Berlebaranlah secara biasa-biasa saja. Minta maaflah sebesar-besarnya. Gengsinya dikondisikan dulu sebentar, hehehe.

Dek, dimanapun kamu berada sekarang, saya ucapkan selamat berlebaran. Titip salam buat keluargamu yang inshaAllah bakal jadi keluargaku juga.

Hari Pendidikan

Dik, manusia bisa dikatakan sukses jika ia benar-benar menjadikan dirinya berguna buat orang lain. Tapi sekarang, tidak banyak orang yang mau melakukannya. Bukan karena ia tidak mampu atau tidak mau, tapi karena ia lupa. Ia lupa akan hal-hal yang menjadikannya manusia. Ia keblinger oleh harta benda, gelar, pangkat, popularitas, dan kalah oleh kemaluannya.

Dik, tujuan kita bersekolah itu biar menjadi pintar. Orang tua kita menyekolahkan kita setinggi-tingginya biar terhindar dari kebodohan dan ‘kemiskinan’. (Kata ‘miskin’ disitu artinya bukan tentang uang lho ya dik? tapi tentang mental.) Nah sekarang ini, orang berlomba-lomba masuk SD favorit, SMP unggulan, SMA kelas internasional biar selanjutnya punya peluang besar untuk masuk universitas yang berkelas. Universitas yang berkelas itu diharapkan bisa mengantarkan kita untuk dapat pekerjaan, jabatan, status sosial dengan penghasilan tinggi dan fasilitas mumpuni. Bisa dibilang, pendidikan sudah menjadi sebuah investasi.

Lalu apa yang manusia lupakan dik? Ilmu tentang kebijaksanaan. Sekarang pendidikan bukan lagi mencari ilmu untuk menjadi seseorang yang bijaksana dan menjadi sebenar-benar manusia. Orang lebih suka bicara hal yang 'realistis', yaitu Uang. “Nggak ada uang, nggak bisa makan!” katanya. Akhirnya, orang-orang yang kelaparan, kemiskinan, kesusahan, kemelaratan, nelayan, petani, dan buruh itu jadi dianggap tidak realistis. Karena tidak realistis, manusia berbondong-bondong tidak ada yang mau menjadi mereka.  Padahal, mereka itulah yang lebih dekat dengan kebijaksanaan. Coba dik, pernah dengar berita nelayan ditangkap KPK apa tidak? Atau petani yang terlibat kasus suap? Atau buruh yang jadi buronan interpol? Itu sedikit contoh bahwa ilmu tinggi dan kekayaan tidak berjalan lurus dengan kebijaksaan dan mental yang benar. 

Nabi Muhammad SAW sendiri pernah mengingatkan, "Demi Allah bukanlah kemiskinan yang paling aku takutkan menimpa kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah dihamparkan kepada kalia kekayaan dunia, sebagaimana telah dihamparkan kepada umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba mendapatkannya hingga kalian binasa sebagaimana mereka binasa."

Ah, dik. Maafkan aku yang sok bijaksana ini. Masih sangat jauh langkahku untuk bisa jadi manusia seutuhnya. Tapi setidaknya aku sudah mengingatkanmu biar setinggi apapun impianmu, tidak membuatmu lupa siapa dirimu sebenarnya dan tidak membuatmu lupa nasib orang-orang disekitarmu. Selamat Hari Pendidikan, dik. Dari sekarang, belajarlah lewat media apapun dan jadilah manusia! OK? Sanggup? Kamu pasti bisa! I’m so proud of you.

Kenikmatan yang Terlupakan

Dik, besar kecilnya nikmat yang diberikan Tuhan, memang sudah sepatutnya kita syukuri. Namun akan lebih baik jika kita lebih banyak bersyukur dan berterima kasih kepada hal-hal kecil deh? Kepada cottonbud, tusuk gigi, masker, penjual bensin eceran, tukang tambal ban, WC umum, warung burjo, dan hal-hal kecil lainnya yang keberadaannya seringkali disepelekan manusia. Bersyukurlah, karena keberadaan mereka seakan menggenapi hari-hari kita yang selalu terburu-buru. Bersyukurlah, karena keberadaan mereka mengingatkan kita bahwa kenikmatan dunia tidak selalu tentang banyaknya uang, pujian orang, dan pasangan yang selalu bergonta-ganti.

Coba sesekali rasakan kenikmatan-kenikmatan yang Tuhan titipkan pada mereka. Rasakan kenikmatan luar biasa yang muncul saat kamu mengorek kuping dengan cottonbud. Rasakan perasaan puas yang datang saat kamu berhasil membersihkan bekas sambal yang nyelilit di gigimu dengan tusuk gigi. Rasakan hangat nafasmu di dalam masker yang melindungimu dari asap hitam knalpot bus. Rasakan heroisme yang muncul dari sosok bapak penjual bensin eceran dan tambal ban, sehingga kamu tidak jadi datang terlambat ke kantor dengan bau badan menyengat karena menuntun sepeda motor terlalu jauh. Rasakan perutmu yang lega dan terasa ringan saat kamu akhirnya bisa buang air di WC umum, setelah sebelumnya berkeringat menahan berak ditengah kemacetan selama berjam-jam. Rasakan pula ketulusan hati dari mas-mas warung burjo yang rela bangkit dari kantuknya dan dengan ikhlas membuatkanmu semangkuk mie instan saat kamu kelaparan tengah malam dan keuanganmu sedang menipis.

Tuh dik, Tuhan memang sangat all out dalam menyayangi hambanya. Kasih sayang-Nya meliputi segalanya, bahkan sampai ke tempat-tempat yang sering kita anggap kotor dan menjijikkan. Tuhan juga menitipkan kasih sayang-Nya lewat tangan orang-orang yang seringkali termarjinalkan dalam kehidupan sosial. Itu kenapa Tuhan menyuruh kita untuk juga ikut all out dalam bersyukur.  Bukan untuk-Nya, tapi untuk diri kita sendiri. Coba kamu hitung berapa nikmat Tuhan yang kamu rasakan hari ini, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Masih adakah celah untuk sombong?

Belajar Cinta dari Berboncengan

Dik, kalau aku lagi nyetir motor dan kamu yang aku bonceng, kira-kira kamu bakal diem aja atau ikut-ikutan menentukan arah? Misalnya kaya, "Awas mas! Ngerem mas! Jangan terlalu tengah mas!" dan seterusnya. Kira-kira kalau sepanjang perjalanan kamu bicara seperti itu terus, mengganggu tidak? Buatmu mungkin tidak, tapi buatku itu sangat mengganggu.

Dik, kan kita sudah punya tujuan sebelum memutuskan bahwa kamu yang membonceng dan aku yang menyetir? Itu kan juga sudah menjadi kesepakatan kita berdua kalau aku menjadi supirnya dan kamu menjadi penumpangnya. Tugas supir adalah berkendara dengan hati-hati, memperhatikan jalan dan segala peraturannya. Tugas penumpang adalah percaya sama supir sambil berdoa dalam hati biar semua selamat sampai tujuan. Kira-kira begitulah idealnya hubungan antara supir dan penumpang, dik. Supaya apa? Supaya sama-sama enak, nggak berantem di jalan, dan nggak kecelakaan. Boleh saling mengingatkan, asal tidak sampai berlebihan.

Nah dik, hubungan laki-laki dan perempuan juga sama seperti itu. Ada yang jadi imam, ada yang jadi makmum. Tujuannya apa? Biar hubungan berjalan seimbang. Bukan untuk membatasi kebebasan satu sama lain. Mentang-mentang laki-laki itu imam, lantas bisa seenaknya sendiri. Itu namanya egois. Nggak bener. Terus mentang-mentang perempuan itu jadi makmum, lalu minta ini-itu dan susah dibimbing. Sama saja. Imam dan makmum itu satu kesatuan, dik. Sebuah mekanisme kerja yang sudah Tuhan ajarkan dari dulu biar manusia bisa hidup selaras, sejalan, dan seimbang dengan segala keterbatasannya.

Coba sesekali kamu bayangkan, dik. Aku lagi boncengin kamu jalan-jalan naik motor, lalu di jalan kamu bawa-bawa paham feminisme dan kesetaraan hak sebagai manusia untuk ikut mengatur kapan ngerem, kapan nyalip, kapan mengklakson, kapan belok, dan seterusnya. Aduh dik, bisa-bisa kita bakalan jatuh nyungsep lalu nyemplung got dan ditertawakan orang deh. Lha kenapa? Karena kita tidak melakukan tugas kita masing-masing sebagaimana mestinya.

Jadi begitu ya, dik? Semoga kamu paham apa yang aku maksud. Aku tidak mau mengubah apapun darimu kecuali nama belakangmu. Itupun kalau besok kita jadi menikah. Aku cuma ingin hidup kita bisa jadi tuntunan bagi orang lain, bukan malah jadi tontonan. By the way, terima kasih sudah berusaha mengingatkanku.

Jujur

Kejujuran yang setengah-setengah, sama saja dengan sebuah kebohongan. dan tidak ada yang lebih mengecewakan daripada kebohongan yang terucap dari mulut seseorang yang paling kamu percaya.

Dek, kamu tahu apa yang paling mahal di dunia ini? kepercayaan. Kita bisa saja membentuk image dan membangun kepercayaan sedemikian rupa, tapi sekali saja kepercayaan itu disalah gunakan, maka hubungan sepasang manusia tidak akan lagi sama dengan sebelumnya. Pudar, pudar, semakin kabur, dan... Hilang.

Dek, dalam perjalanan ini, semoga Allah selalu membersamai dan menjaga hati kita dari keragu-raguan dan prasangka. Percayakan padaku lalu pasrahkan pada-Nya. Bersamaku, kamu aman, kamu terjaga. inshaAllah.

Mengikhlaskanmu

Dek, kamu tahu tidak? Dalam pencarian yang cukup panjang ini, bagiku, mengikhlaskan adalah sekuat-kuatnya mengikat. Dan melalui tulisan ini, aku mencoba untuk mengikhlaskanmu.

Jika dalam pencarian ini kamu lebih dulu menemukan ia yang akan mendampingimu dan dalam prosesnya, ia sering membuatmu kesal, maka bersabarlah. Sebab barangkali diantara mimpi-mimpinya ada yang bermula dari dirimu. Dirinya yang berproses itu adalah untuk memperjuangkanmu.

Lelaki butuh waktu. Dunianya tidak melulu tentangmu. Ada orang tua, keluarga, pekerjaan, dan impian-impiannya yang harus dikejar. Jadilah perempuan yang bisa memahami, mengerti, serta memberi porsi yang pas antara kapan harus hadir dan kapan harus memberi ruang. Jadilah pendukung setia tanpa harus membuatnya terkekang.

Dukunglah ia dengan perhatian dan doa-doamu. Barangkali hasilnya memang tidak langsung terasa, tapi suatu saat ia akan tahu bahwa kamu bisa menjadi tempat ia bersandar disaat perempuan lain menyerah dan hanya bisa bersungut karena tidak ditemani setiap hari. Jadilah perempuan yang bisa memberi disaat perempuan lain hanya bisa menuntut.

Bersabarlah, dek. Jika ia memang lelaki baik-baik, dia akan bertahan dan memperjuangkan hidupnya untuk mampu menghidupimu. Dia akan membanting tulangnya untuk menjadi tulang punggung yang kokoh bagimu. Kesabaranmulah yang menentukan apakah kamu bisa menjadi bagian dari masa depannya atau tidak.

Dek, melalui tulisan ini sekali lagi aku mencoba mengikhlaskanmu. Pesanku, jadilah perempuan itu. Perempuan yang bisa diandalkan, bukan penghambat masa depan. Apa kamu sanggup?


Tanam dan Rawat

sesuatu yang kita tanam tapi tidak kita rawat, akan tumbuh menjadi semak belukar yang tumbuh kekar, mengakar liar, dan membentuk simpul-simpul yang melilit rumit. tidak indah dipandang mata, tidak nyaman dirasakan hati.

pun juga kita. keinginan menanam rasa pada seseorang harus diimbangi dengan ketelatenan untuk merawatnya. bersedia meluaskan hati untuk memahami, menguatkan doa untuk menaungi, dan membebaskan benalu egoisme diri sendiri.

assalamu'alaikum, dek. semoga kita mampu untuk merawat apapun yang kita tanam, sampai akhirnya bisa kita  nikmati keindahannya bersama-sama.

NIAT

"Innamal A'malu Binniyat Wa Innama Likullimriin Ma Nawa" 
Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai dengan niat dan segala perkara itu tergantung apa yang diniatkan. (HR Bukhari)




Niat ibarat sebuah pertigaan di jalanan kota. Ia menentukan mau dibawa kemana kaki kita melangkah. Ia lebih halus dari butir pasir dan lebih mikro dari atom. Ia berbahaya. Merasuki hati tanpa kita rasa. Batas surga dan neraka seakan berada dalam genggamannya. Terkadang, niat membuat kita menjadi tentara kebenaran yang membantai keburukan-keburukan diri. Di waktu lain, ia menjadikan kita sebagai budak kebathilan yang enggan menerima kebenaran. Niat ibarat sebuah ombak tinggi di samudera, mengombang-ambingkan perahu jiwa dalam keraguan. Bahkan, kapten kapal yang paling mahir pun terkadang dipaksa pasrah pada kekuatan ombak. Hanya keyakinan penuh pada Sang Penciptalah yang membuatnya tetap berani untuk terus mengendalikan kapal kehidupan.

Bersyukur

Saka, lapar atau rakus (kaya koruptor)?

Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar miskin, Ka.
Tidak ada yang benar-benar kekurangan.

Tuhan menciptakan tawa dan tangis. Tuhan mematikan dan menghidupkan. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Tapi Tuhan tidak pernah menciptakan kekayaan dan kemiskinan. Ia menyandingkan kekayaan dengan kecukupan. (*)

Sebenarnya, kita lah yang menciptakan kemiskinan itu lewat standar yang kita buat-buat sendiri.

Seringkali, kita merasa iri kepada mereka yang selalu terpenuhi kebutuhannya karena memiliki banyak harta dan kekuasaan. Padahal, sebenarnya posisi mereka sama dengan kita; sama-sama sedang diuji. Orang kaya, diuji dengan hartanya. Orang pandai, diuji dengan ilmunya. Penguasa, diuji dengan kedudukannya. Orang tertindas, diuji kesabarannya. 

Ka, pada hakikatnya, kita hanya perlu hidup berkecukupan.
Seseorang bisa saja memiliki ratusan pakaian mahal, tapi ia hanya mampu mengenakannya satu sekali waktu. Seseorang bisa saja memiliki banyak makanan lezat di meja makannya, tapi ia hanya mampu menghabiskan beberapa sampai ia kenyang. Seorang tukang bangunan tidak membutuhkan stetoskop dan jarum suntik untuk membangun rumah. Pun juga dokter, tidak membutuhkan linggis dan sekop untuk mengobati pasiennya. Ikan tidak membutuhkan paru-paru untuk bernafas, seperti halnya harimau yang tidak membutuhkan insang untuk beraktivitas.

Bukankah apapun yang kita miliki tapi tidak kita butuhkan, hanya akan membebani kita, Ka?

Ka, setiap orang memiliki peran masing-masing dalam tatanan semesta. Kita tidak bisa menyamaratakannya dengan standar yang kita buat-buat sendiri. Tuhan sangat baik dengan memberikan secukupnya, sesuai apa yang kita butuhkan. Walau terkadang tidak selalu sama dengan yang kita inginkan. Sayangnya, banyak sekali dari kita yang lupa akan hal itu. "Sawang Sinawang", kalau kata orang Jawa bilang.

Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang, Ka. Dengan bersyukur, kita tidak akan merasa miskin dan akan tetap tersenyum karena merasa cukup.

______________________________
(*) lihat Quran Surah An Najm (53) ayat 43-45 dan 48.

Jika Kita Menikah Nanti

Jika kita menikah nanti dan aku membiasakan pola hidup sederhana pada keluarga kecil kita, apakah kamu akan menutup mata dari mereka yang memiliki rumah yang lebih megah, kendaraan yang lebih mewah, dan harta yang lebih berlimpah daripada aku? Apakah kamu juga akan menutup telinga dari para istri yang menceritakan penghasilan suami mereka yang lebih besar dariku? Atau mengabarkan bahwa mereka dibelikan ini dan itu oleh suami mereka?

Jika kita menikah nanti dan penghasilanku hari itu ternyata pas-pasan, apakah kamu akan tetap memandangku dengan senyum manakala aku pulang membawa segenggam rezeki yang kuperoleh dari pekerjaanku? Berapapun nilainya, apakah kamu akan tetap merasa bahagia?

Jika kita menikah nanti dan aku mati-matian berusaha mencari rezeki di jalan Allah di tengah-tengah zaman yang semakin menggila ini, apakah kamu akan tetap bersyukur dan mendukungku? Apapun pekerjaanku? Berapapun penghasilanku? 

Ini susah, lho?
Aku tidak ingin kamu menikah denganku hanya semata-mata karena cinta.
Kamu harus paham konsekuensinya. Kamu harus siap dengan segudang permasalahannya.
Apakah kamu sudah memikirkannya matang-matang?

Bukan maksudku mengajakmu hidup susah.
Aku hanya ingin mempersiapkanmu untuk menjadi perempuan mandiri nan tangguh.
Yang tidak mudah menyerah saat dihimpit masalah, Yang tak mudah mengeluh saat rapuh.

Bukannya aku tidak ingin memanjakanmu dengan kasih sayang.
Aku harus memastikanmu hidup tenang di hari tua.
Menikmati umur yang sisa seberapa dengan canda tawa.

Bukannya segala maumu tak ingin kupenuhi.
Tapi diluar sana masih banyak manusia yang tidak lebih beruntung daripada kita.
Bagaimana aku bisa leluasa membelikanmu barang ini dan itu, tapi masih banyak orang yang bingung mau makan apa mereka hari itu? Tidak, tidak! Aku tidak mau kita hidup tanpa tanggung jawab sosial seperti itu!

Aku ingin menikahimu karena Tuhanku menyuruhku begitu. Menikah denganku tidak menjamin kamu hidup bahagia. Aku ingin mengajakmu ke dalam hutan penuh marabahaya yang penuh dengan ketidak pastian nasib. Aku ingin mengajakmu ke dalam belantara hidup yang penuh petualangan mendewasakan. Niatkan ibadah, dan apa kata orang tidak akan jadi masalah. Hidup sederhana, tapi bukan sederhana yang tidak bisa apa-apa.

Pada akhirnya, aku akan menantikan waktu-waktu dimana kita duduk bersebelahan di halaman rumah, memandangi mendung langit yang sedang mencurahkan rahmat-Nya, menikmati suara jangkrik dan katak bersautan, sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan kue-kue lunak yang mudah kamu telan.

Silakan dipertimbangkan. Jangan lupa libatkan Tuhan.
Jika kamu mampu menjawab "Ya" dengan tabah terhadap seluruh pertanyaan dalam tulisanku ini, maka aku akan memperjuangkanmu.

Insha Allah..
Aamiin..

"Ngaca Dulu Dong!"

"Diri sendiri aja belum bener, udah sok suci ngingetin orang lain! Ngaca dulu dong! Urusin diri sendiri aja dulu!"

Akhir-akhir ini, ucapan seperti itu sering kita dengar di lingkungan pertemanan kita sehari-hari, baik secara langsung maupun lewat kolom-kolom komentar di media sosial. Dari komentar-komentar yang dilontarkan, kebanyakan dari mereka merasa apa yang mereka lakukan bukanlah urusan orang lain, sehingga mereka tidak berhak untuk mengingatkannya. Yang terakhir membuat geger adalah kasus seorang perempuan pelaku penginjak bunga amaryllis yang di-bully netizen karena berkomentar sejenis itu. 

Jujur, saya pribadi merasa risih jika ada seseorang yang berkata seperti itu.

Jadi seperti ini lho, mbak, mas.
Menurut saya, setiap manusia mempunyai kewajiban untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan.
Saya kira, setiap agama yang ada di muka bumi ini, tidak ada satupun yang mengajarkan penganutnya untuk berbuat buruk terhadap orang lain. Siapapun Tuhan yang kita sembah, tidak ada satupun yang mengajarkan hamba-Nya untuk berlomba-lomba dalam berbuat kerusakan.

Memang, setiap manusia sudah pasti tidak ada yang sempurna, suci, dan benar-benar luput dari dosa. Tapi bukan berarti kita, sebagai manusia, boleh membiarkan orang lain dalam berbuat dosa. Justru itulah nikmatnya. Orang lain menegur jika kita berbuat salah, dan kita mengingatkan orang lain jika mereka berbuat dosa. Bersama-sama saling bersinergi untuk berbuat lebih baik dalam mencari sebuah kebenaran hakiki. 

Namun bukan berarti kita bebas seenaknya sendiri menyalahkan orang lain. Kita sebaiknya lebih dulu "berkaca" pada diri sendiri, karena manusia memang gudangnya salah. Dan dalam penyampaian pesan untuk mengajak pada kebaikan, menurut saya, sebaiknya juga menggunakan cara yang baik-baik. Saya yakin, kita mampu untuk melakukannya. Jangan menyalahkan orang lain, hanya karena dosanya berbeda dengan kita. "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui." (QS. An-Nur:19)

Coba bayangkan jika semua orang di dunia saling acuh, tidak ingin mengingatkan orang lain atas kesalahannya karena hanya takut dicap "sok suci"? Bayangkan jika semua orang di dunia tidak ingin ditegur hanya karena itu bukanlah urusan orang lain? Saya khawatir, ucapan-ucapan seperti itu hanya akan menimbulkan generasi-generasi mati hati. Generasi-generasi anti kritik. Generasi-generasi apatis.

Dalam hal ini, karena saya seorang muslim, Insha Allah saya akan terus berpatokan pada konsep Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Mengajak kepada kebaikan dan mencegah daripada keburukan). Dalam QS Al-Ashr (1-3) sendiri juga sudah disebutkan bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, serta saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran. 

Maaf jika ada yang tersinggung. Bukan maksud saya untuk menggurui dalam menulis ini. Saya hanya menyampaikan pendapat saya. Teman-teman boleh setuju, boleh juga tidak. Mengingatkan orang lain tidak harus dengan cara menjatuhkan harga dirinya di depan orang banyak, bukan? Cukup ingatkan lewat private message, Insha Allah hasilnya akan lebih terasa daripada mencecarnya di kolom komentar, karena itu adalah salah satu cara untuk menjaga aib orang lain.

Semoga kita semua mampu mengambil manfaatnya. Semoga kita tetap saling mengingatkan kesalahan dan mengajak orang lain pada kebenaran, apapun resikonya. Umat manusia membutuhkan kita semua untuk bersama-sama menuju pada kebaikan.



Mari berteman dan saling mengingatkan :)
Latif Hendra S.




Diet Smartphone

Oleh: Latif Hendra S.*


Sudah beberapa hari ini aku menon aktifkan beberapa media sosial yang aku punya. Banyak sekali orang yang bertanya kenapa aku memutuskan untuk melakukannya. Ada yang mendukung, ada pula yang menyayangkannya. Ada pula yang mencemooh bahwa aku hanya ingin dicari, hanya ingin cari perhatian, pencitraan, omong doang, lebay, dll.

Jadi, dalam tulisan ini, aku ingin memberikan alasannya. Semoga bermanfaat.


***

Aku mempunyai banyak sekali teman di media sosial, tapi aku kesepian. Ya, aku kesepian. 
Hampir setiap hari aku berkomunikasi dengan mereka di media sosial. Kami mengobrol ringan, berbagi foto atau kegiatan yang sedang dikerjakan. Sedapat mungkin aku selalu keep in touch dengan teman-temanku walau hanya sekedar memberi komentar, atau memberi like pada posting-an mereka.

Sampai suatu hari, aku berpikir bahwa sesungguhnya pertemuan yang baik adalah pertemuan yang melihat mata, mendengar kata, dan memahami makna. Selalu ada perasaan yang berbeda ketika menatap langsung mata lawan bicara dibandingkan dengan melihat nama orang yang tertera di layar, beserta gambar dirinya yang terbaik sebagai foto profil.

Kemudian, aku mencoba membuka mata dan melihat keadaan di sekelilingku. Tidak dapat dipungkiri lagi, kita tidak akan bisa lepas 100% dari media sosial. Tapi pernahkah kita berpikir, ketika kita mulai membuka gadget untuk melihat dunia, sebenarnya kita sedang menutup pintu dunia kita yang lain? Semua tatanan yang tercipta dari teknologi canggih ini hanyalah sebuah ilusi; pertemanan, persahabatan, kekeluargaan, kebersamaan. Semuanya!

Awal aku melakukan program diet smartphone ini, aku melihat dunia yang sangat membingungkan. Kita seakan diperbudak oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri. Dunia dipenuhi dengan pencitraan, promosi diri, dan kepentingan pribadi yang menimbulkan sikap apatisme terhadap orang lain. Kita menjadi generasi yang haus akan pengakuan. Saling menjatuhkan satu sama lain lewat debat-debat di dunia maya, memaksakan diri untuk mengikuti trend yang sedang hits dan kekinian, memasang foto selfie, memamerkan ketampanan dan kecantikan untuk berlomba-lomba mendapatkan likes dan pujian: “cantik kak”, “followback kak”. Bah! Bahkan ada selentingan iseng yang muncul bahwa standard hits atau tidaknya seseorang, ditentukan oleh adanya iklan-iklan online shop di akun media sosial mereka. Dunia macam apa ini? Kita terlalu sibuk membanggakan diri sendiri dan mengharapkan pujian orang lain, sampai tidak sadar bahwa kita sedang terasing di kehidupan sosial.

Ada kalanya pula kita sedemikian rupa merangkai kata hingga terlihat bahwa hidup kita indah dan baik-baik saja. Mencomot quote-quote dari tokoh ini dan itu yang membenarkan hati kita bicara walau terkadang kita sendiri tidak pernah tahu siapa tokoh yang ucapannya kita kutip itu sebenarnya. Mengikuti pemikiran-pemikiran official account galau dan egois yang melemahkan mental. Menceritakan permasalahan-permasalahan hidup kita yang sepele ke lini masa, sampai kita lupa bertanya, “Apakah orang lain peduli?”

Belum lagi permasalahan saling judge satu sama lain. Omongan di media sosial lebih dianggap serius daripada di dunia nyata. Kebenaran menjadi abu-abu karena kita bebas membentuk citra diri. Kita senang mencari teman baru, padahal mereka tidak sepeunhnya mengenal kita  dan kita juga tidak sepenuhnya mengenal mereka. Munculah stigma-stigma dan anggapan miring akibat ekspektasi yang melenceng dari seseorang tentang diri kita.

Aku merindukan masa-masa dimana aku mendatangi teman-temanku atau mereka mendatangiku. Kita berteman tanpa punya kepentingan. Lalu kita merasa menjadi manusia yang paling tampan dan bahagia ketika saling berbagi pengalaman. Saling menyediakan sepasang telinga yang utuh dan jiwa yang penuh terhadap apa yang diceritakan oleh lawan bicara, sekonyol apapun cerita itu. Tidak mudah terdistraksi oleh “teman-teman lain” di luar sana. Menceritakan pengalaman saat liburan dengan mata berapi-api dan menunjukkan foto-foto yang sudah tersusun rapi dalam album yang mampu membawa para pendengarnya seakan masuk dan ikut dalam perjalanan tersebut. Aku pikir itu lebih menyenangkan daripada mengetahui cerita teman kita lewat postingan-postingan yang mereka unggah di Path. Aku merindukan sensasi rasa ingin tahu dan penasaran yang nyata. Aku lebih memilih tidak tahu lalu mencari tahu daripada sudah tahu tapi bersikap tidak mau tahu.

Saat aku kecil, dapat dikatakan aku jarang ada di rumah. Selalu bersepeda bersama teman-teman mengitari kompleks perumahan. Kadang aku terjatuh, tangan lecet-lecet, kulit kaki mengelupas, kemudian menangis. Tapi anehnya, aku tetap mengulanginya. Luka tidak bisa merebut kebahagiaanku. Imajinasi bebas mengalir tanpa takut anggapan-anggapan aneh dari orang lain. Tawa seakan tak pernah lepas dari sudut bibir mungilku. Satu-satunya hal yang bisa menghentikanku adalah teriakan Ibu menyuruhku pulang untuk mandi dan pergi shalat maghrib ke masjid.

Sekarang, taman-taman bermain sepi. Tidak ada anak-anak yang berlarian sambil berkejar-kejaran, meloncat, berteriak, dan menangis karena terjatuh. Ayunan tidak lagi terayun. Tidak lagi tergambar kotak-kotak permainan engklek di tanah pekarangan. Tidak ada lagi raut muka anak-anak kecil mengintip kecil, menahan tawa, saat bermain petak umpet. Sudah jarang ditemui anak-anak menghabiskan sorenya dengan kebahagiaan-kebahagiaan remeh, receh. Mungkin seperti hal yang mustahil bagi orang tua sekarang untuk dapat menghibur putra-putrinya tanpa menggunakan gadget canggih berisi ratusan permainan-permainan seru tapi menyedihkan, menyendirikan.

Pada satu waktu, aku juga merasa sedih ketika saudara sepupuku yang masih duduk di bangku SD, lebih asyik bermain gadget-nya daripada bermain dengan saudara-saudara lain yang notabene jarang bertemu jika tidak Idul Fitri. Puncaknya, adalah pada saat aku diantarkan keluargaku ke stasiun untuk kembali ke kota perantauan. Alih-alih menghabiskan waktu untuk saling berbicara, mereka asyik dengan smartphone-nya. Mereka lebih memilih berbicara dengan teman-temannya di grup WhatsApp daripada dengan anaknya yang sebentar lagi meninggalkan mereka!

Lain waktu, aku tidak tahan ketika melihat keheningan dalam mobil yang penuh sesak ketika aku sedang melakukan perjalanan bersama teman-temanku. Masing-masing asyik dengan dunianya sendiri. Di ruang tunggu stasiun, di kafe, di depan ruang dosen saat menanti jadwal bimbingan, tidak seorangpun mengajak bicara orang di dekatnya karena takut dibilang aneh. Kita duduk berdekatan, tapi hati kita jauh. Hampir semua kepala tertunduk, memanjatkan doa ke hadirat smartphone yang Maha Kuasa. Mengutip perkataan salah seorang temanku, “Kita ini adalah generasi-generasi idiot. Manusia bodoh membawa gadget canggih. Dumb people with smart phone.”

Kita menjadi anti sosial, tidak lagi terpuaskan dengan hubungan interpersonal yang saling bertatap mata. Aku takut anak-anakku, anak-anak kita, kelak dilahirkan dan dibesarkan dengan melihat kita hidup layaknya sebuah robot (lebih parah lagi jika mereka menganggap itu sebagai hal yang normal.)

Sendirian bukanlah masalah, teman. Itulah intinya. Jika kamu berani jujur pada diri sendiri untuk melakukan apa yang memang kamu sukai, kamu tidak pernah sendirian. Kamu akan produktif dan tetap diakui secara nyata. Kamu akan sepenuhnya sadar dan memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya. Jika kamu sedang berada di tempat umum dan merasa kesepian, jauhkan tanganmu dari gadget-mu, tengoklah ke kanan dan kirimu, ajaklah bicara manusia-manusia di sebelahmu. Belajarlah hidup bersama, mulai dari hal yang sederhana.

Aku tidak mengatakan dapat lepas 100% dari smartphone. Aku masih membutuhkan informasi dari luar. Aku hanya ingin belajar lebih menghargai orang di sekitarku karena aku sedang merasa kehilangan aku di dunia nyata, dan aku ingin mencarinya, menjemputnya.

Aku tidak ingin memaksa siapapun yang membaca tulisanku ini untuk mengikuti langkahku. Perubahan datang dari diri sendiri. Sekarang aku ingin mencoba mengalihkan perhatian dari smartphone-ku; mematikan layarnya, mensenyapkan suaranya, lalu mulai menghidupkan lingkungan di sekitarku, memberi makna bagi orang-orang di dekatku. Aku ingin memulai hubungan yang nyata, untuk menunjukkan perbedaan yang diciptakan oleh sebuah kehadiran. Itu saja.

***

Sementara waktu ini, jika teman-teman membutuhkanku, silakan kontak ke:
- WhatsApp : 0838 663 17269
- SMS/Call   : 0812 325 79569
- Email        : latifhendra.s@gmail.com

Untuk beberapa aplikasi seperti instagram (@latifhendra) dan blog (latifhendra.blogspot.com), masih aku gunakan untuk berkarya.



Sampai jumpa di dunia nyata!



*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya..
Mantan Redaktur Pelaksana Majalah LPM Perspektif FISIP UB.
Mantan Manajer Audio-Visual Indonesian Future Leader Chapter Malang.


Jujur



kalau ingin dia jujur, jangan tuntut dia untuk berjanji. tidak usah berjanji agar dia tidak perlu berbohong.

kalau ingin dia jujur, jangan diikat. biarkan dia bebas untuk melakukan apa yang ia mau. dia akan jujur karena kesadaran, bukan paksaan.

kalau ingin dia jujur, jangan mencoba mengubah dirinya. biarkan dia apa adanya, semaunya. saat ia merasa diterima seluruhnya, dia akan jujur, ingin selalu dekat, dan menjadikan dirinya yang terbaik untukmu.

kalau ingin dia jujur, jangan sekalipun menghakimi. cukup nikmati tingkah lakunya. tidak perlu sakit hati jika kelakuannya tidak sesuai inginmu. tidak perlu juga untuk berusaha membuat dia suka padamu.

berikan ia cinta tanpa kondisi, sebatas kemampuanmu. jika saatnya pergi, pergi. jika saatnya bertemu, bertemu.

saat dia merasakan ketulusan, dia yang akan pergi mencarimu.

Buat Apa?

aku suka menulis, walau sering dibilang omong doang, tidak ada aksi. karena ketika mataku hanya mampu menatap, pemikiranku harus bisa abadi menetap. (suatu hari, aku harap kau mau membaca tulisan-tulisanku.)


aku suka baca buku, walau sering dianggap culun. karena aku sadar wajahku pas-pasan. jadi bahan obrolanku denganmu tidak boleh pas-pasan. (suatu hari, aku harap kau mau membaca dan mendiskusikan buku-bukuku.)


aku memang belum lulus kuliah. karena 'kebelum-lulusanku' membuatku memiliki lebih banyak waktu untuk menempa diri, demi membantuku saat 'kesudah-lulusanku.'


aku hidup di dunia tidak untuk membuat orang lain terkesan. kamu tidak perlu setuju dengan apa yang aku lakukan. kamu hanya perlu jujur tentang apa yang ingin kamu lakukan. buat apa merendahkan harga diri untuk mengikuti arus omongan orang lain?


sabar bukan berarti terus diam dan menumpuk amarah di hatimu. sabar adalah berani mengungkapkan apa yang membuatmu terganggu tanpa harus kehilangan kontrol atas emosimu.


ayo mulai jujur dengan diri sendiri :)


Tentang Karma



tentang 'karma', jujur saya tidak terlalu peduli hal itu karena saya berfokus pada memberikan cinta. bukan membalas 'karma'


entah ada atau tidaknya dan bagaimana mekanismenya, 'karma' kerap dijadikan alasan orang-orang yang sakit hati untuk menghibur diri.


mereka sering menggunakan 'karma' untuk menyalahkan orang lain atas rasa sakit hati yang kadang mereka buat-buat sendiri, sampai lupa mungkin apa yang mereka rasakan sekarang adalah buah akibat perbuatan mereka dulu.


benar atau salah, menurut saya, yang terpenting adalah tindakan kita. bukan mengharapkan balas dengan mengutuk orang (yang menurut kita salah) menggunakan 'karma'


dan jika memang 'karma' benar ada, bukankah lebih baik jika kita fokus kepada cara terbaik memberi cinta, agar 'karma' berikan cinta itu kembali pada kita?


daripada meninggikan suara untuk saling menyalahkan, lebih baik merendahkan hati untuk saling mendengarkan bukan?

Tenang Saja



jika karena kekritisan kau dijauhi, bersyukurlah karena dijauhkan dari orang-orang bebal. 

tidak usah takut diremehkan atau dikucilkan.


diremehkan orang itu enak. kita bisa lihat kekagetannya saat tahu hanya kita yang mampu menolong kesusahannya.


cobalah sesekali keluarlah dari bingkaimu. niscaya pose hidupmu tidak itu-itu melulu.



Inti


merasa dicintai sebegitunya, kadang sering membuat kita berlaku seenaknya saja. lupa kalau ia bisa pergi kapan saja.


semoga kita tidak menyepelekan kesederhanaan. sebab ia tak sesepele dan sesederhana yang kita kira. (dan semoga kita senantiasa sederhana tanpa ada kecenderungan untuk menyederhanakan banyak hal)


karena pada akhirnya, hidup hanya tentang seberapa mampu kita membawa banyak orang datang di hari pemakaman kita nanti.