Belajar Cinta dari Berboncengan
05.28
Dik, kalau aku lagi nyetir motor dan kamu yang aku bonceng, kira-kira kamu bakal diem aja atau ikut-ikutan menentukan arah? Misalnya kaya, "Awas mas! Ngerem mas! Jangan terlalu tengah mas!" dan seterusnya. Kira-kira kalau sepanjang perjalanan kamu bicara seperti itu terus, mengganggu tidak? Buatmu mungkin tidak, tapi buatku itu sangat mengganggu.
Dik, kan kita sudah punya tujuan sebelum memutuskan bahwa kamu yang membonceng dan aku yang menyetir? Itu kan juga sudah menjadi kesepakatan kita berdua kalau aku menjadi supirnya dan kamu menjadi penumpangnya. Tugas supir adalah berkendara dengan hati-hati, memperhatikan jalan dan segala peraturannya. Tugas penumpang adalah percaya sama supir sambil berdoa dalam hati biar semua selamat sampai tujuan. Kira-kira begitulah idealnya hubungan antara supir dan penumpang, dik. Supaya apa? Supaya sama-sama enak, nggak berantem di jalan, dan nggak kecelakaan. Boleh saling mengingatkan, asal tidak sampai berlebihan.
Nah dik, hubungan laki-laki dan perempuan juga sama seperti itu. Ada yang jadi imam, ada yang jadi makmum. Tujuannya apa? Biar hubungan berjalan seimbang. Bukan untuk membatasi kebebasan satu sama lain. Mentang-mentang laki-laki itu imam, lantas bisa seenaknya sendiri. Itu namanya egois. Nggak bener. Terus mentang-mentang perempuan itu jadi makmum, lalu minta ini-itu dan susah dibimbing. Sama saja. Imam dan makmum itu satu kesatuan, dik. Sebuah mekanisme kerja yang sudah Tuhan ajarkan dari dulu biar manusia bisa hidup selaras, sejalan, dan seimbang dengan segala keterbatasannya.
Coba sesekali kamu bayangkan, dik. Aku lagi boncengin kamu jalan-jalan naik motor, lalu di jalan kamu bawa-bawa paham feminisme dan kesetaraan hak sebagai manusia untuk ikut mengatur kapan ngerem, kapan nyalip, kapan mengklakson, kapan belok, dan seterusnya. Aduh dik, bisa-bisa kita bakalan jatuh nyungsep lalu nyemplung got dan ditertawakan orang deh. Lha kenapa? Karena kita tidak melakukan tugas kita masing-masing sebagaimana mestinya.
Jadi begitu ya, dik? Semoga kamu paham apa yang aku maksud. Aku tidak mau mengubah apapun darimu kecuali nama belakangmu. Itupun kalau besok kita jadi menikah. Aku cuma ingin hidup kita bisa jadi tuntunan bagi orang lain, bukan malah jadi tontonan. By the way, terima kasih sudah berusaha mengingatkanku.
2 comments
Aku suka konsep pembawaan ceritanya dan aku paham maksud dari cerita ini, but there's something in this story bother me a lot.
BalasHapusSampai tahap mana? A woman can say about her opinion, I mean I know that a man adalah sang pemimpin.
bagaimana kalau suatu hari kita berboncengan dan aku tau arah jalan yg lebih baik dan cepat krn aku sudah pernah ke tujuan tersebut sedangkan dia belum pernah ke sana. How can I tell him tapi tidak terkesan nge"lead", how I can trust him padahal aku yakin jalan Yang Aku tau lebih tepat. How can anybody read this without see me like some feminist woman, that the truth is I am just a woman who's struggle with the konsep being independent (have a opinions or assertive) itu salah in a man world.
Baru baca 2 postingamu. I love it. Aku yakin bakalan keranjingan dengan yg lain (maksudnya-postingan-yg-lain). Keep writing. Hey. Sorry kalau seandainya komenku terkesan defense, Aku beneran penasaran dengan pendapatmu dan I will so-so-sooooo happy to hear it. :)
Halo mba Ainun, terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Salam kenal :)
HapusMenurut saya, permasalahan itu bisa diselesaikan dengan komunikasi yang efektif. Gimana caranya? Dengan memahami seluk beluk karakter dasar laki-laki dan perempuan (ceilah) dan menggunakan pemilihan kalimat dan penyampaian yang baik dari kedua belah pihak. Untuk mendalami hal ini, mba Ainun mungkin bisa baca buku Men Are From Mars Women Are From Venus tulisan John Gray dan How To Win Friends and Influence People tulisan Dale Carnegie.
Misal,
1. "Wih mas, idemu keren gila! eh tapi coba deh kalo misal begini gimana menurutmu? (kasih pendapatmu.) ih aku jadi bayangin kayanya bakal lebih bagus deh nanti hasilnya! gimana menurutmu?"
2. "Mas, kamu tau kan kalo kemanapun mas pergi dan apapun yang mas lakukan, selama itu kegiatan yang positif, aku bakal terus dukung mas? Aku percaya kemampuanmu. Tapi dalam kasus ini, aku pernah punya pengalaman seperti ini (ceritakan pengalamanmu). Aku rasa masalah ini bakal bisa lebih gampang diselesaikan dengan cara itu deh? Gimana menurutmu? Sini aku bantu sebisaku. Kita hadapin bareng-bareng."
Begitulah kira-kira hehehe..
Laki-laki butuh pengakuan dan perempuan butuh perhatian.
Dapatkan perhatian laki-laki dengan cara mengakui pencapaiannya dan dapatkan pengakuan perempuan dengan memberinya perhatian yang elegant.
Yup, terima kasih sekali lagi mba Ainun. Saya senang diskusi dengan mba Ainun. Sepertinya pemikirannya menarik. Kalau mau, kita bisa saling tukar ide dan diskusi lewat blog (blog mba Ainun apa ya? biar saya follow.)
Terima kasih :)