Ada Apa?

"Jancok! Kapan semua ini berakhir, Asu!" umpat Karyo sambil menggaruk-garuk rambutnya yang kriwul itu. Sepertinya, sudah lama ia tidak keramas. Kelihatan dari ketombe yang menyalju di baju hitam kesayangannya. Hampir setiap hari baju itu selalu melekat di tubuh kurusnya. Tak tergantikan! Konon, baju itu adalah pemberian sang mantan terindah yang kini mencampakkan Karyo sebegitu hinanya. Kasihan banget kamu, Yo!

Hmm, tapi entah ada apa dengan Karyo hari ini. Selepas pulang kerja dan kebasahan karena hujan, dari jauh kelihatan bahwa ia seperti menyimpan beban dalam-dalam. Oh, Karyo. Ada apa dengan dirimu, Yo?

Semoga ini bukan karena tenaga kerja asing ilegal yang merampas lahan kerja saudara-saudara kita sesama buruh di sana. Atau masa iya sih kesedihanmu disebabkan oleh ternodanya persatuan bangsa ini oleh kaum jubah Abu Jahal yang kesetanan dalam bertuhan? Dan kayaknya tak mungkin pula ini semua karena masalah Pilkada DKI yang terlalu dibesar-besarkan media televisi. Ah, hanya Tuhan dan Karyo yang tahu ada apa dibalik pisuhan Karyo.

Tak lama kemudian, tiba-tiba Karyo sudah duduk di sebelah saya dan berkata, "Si Vis Pacem, Para Bellum. Jika kau mendambakan perdamaian, maka bersiaplah berperang. Dan sesulit-sulitnya perang adalah memerangi diri sendiri." 

Belum usai saya memaknainya, Karyo sudah beranjak pergi. Menghilang entah kemana. Aaah, Karyo. Kamu buat saya penasaran lagi.



Teman Hidup

Sulastri, kita memang tak tahu ke arah mana Tuhan menggiring kaki kita. kita tak tahu bagaimana Tuhan menjalankan rencanaNya pada kita. ada teman yang pas kuliahnya berprestasi, tapi sampai sekarang belum dapat kerja. ada teman yang waktu kuliahnya "njancuki", eh dia malah lebih dulu dapat kerja. Yah, namanya juga hidup, Las. sekarang bukan zamannya lagi pintar/bodoh, tapi sudah nasibnya/belum nasibnya. tak ada yang perlu diratapi ya to?

Las, kamu tau apa yang pasti di hidup ini? ketidakpastian. brace yourself! manusia boleh saja bermimpi dan berencana ini itu, tapi kalau Tuhan nggak mengizinkan, ya tetap saja tak akan terjadi. jadi, besok kalau pacarmu sudah menjanjikan kamu kepastian hidup ini-itu, segera tatap matanya dalam-dalam, pegang dagunya, dekatkan bibirmu ke bibirnya, dan berbisiklah perlahan, "ndasmu mz" ehehe. 

bukan-bukan. maksud saya, Allah kan pernah berfirman di QS 1:216 bila yang kamu senangi belum tentu yang terbaik buatmu kan, Las? 

oh Lastri, tenang saja. yang bisa kita lakukan sekarang adalah saling memahami dan menguatkan. terus saja kita berdoa untuk masa depan. sesungguhnya Tuhan sedang melihat sekeras apa kita berusaha dan sekencang apa kita berdoa. kalaupun belum ada hasil yang signifikan dalam usaha kita, tak apa-apa. toh ya nggak ada pekerjaan yang sia-sia di dunia ini, karena pekerjaan paling sia-sia di muka bumi ini adalah memberi nasehat pada orang yang sedang jatuh cinta. 

uhuk, siapa itu?

Meninggalkan dan Ditinggalkan

Ningsih, kalau seseorang pergi dari hidupmu nanti, kamu nggak usah takut atau sedih, Ning. Kita tidak pernah bisa merencanakan pertemuan dengan seseorang, lalu kenapa kita harus bersedih karena perpisahan? Sudah jadi kodrat manusia untuk tidak diam di tempat yang sama. Urusannya hanyalah, apakah kita yang meninggalkan atau malah yang ditinggalkan. Dan kepergian yang paling dekat adalah; kematian.

Time flies, People change, Ning.
Ada yang dulunya sering main bareng, sekarang udah sibuk sama urusannya sendiri-sendiri. Ada yang dulunya suka memanggil Sayang sekarang berubah panggilannya menjadi Asu. Ada yang dulunya selalu tak sabar ingin bertemu, sekarang saling membuang muka saat berpapasan. Ada yang dulunya sering menanyakan kabar, sekarang malah saling unfollow di media sosial. Ada yang dulunya bilang sabar menunggu dinikahi, sekarang malah sudah menikah duluan. ehe.

Oh, Ningsih kekasihku. Jangan menggantungkan nasibmu pada orang lain. Persiapkan dirimu. Suatu hari nanti kita pasti merasakan yang namanya kehilangan teman-teman, kehilangan harta, kehilangan cinta, kehilangan saudara, kehilangan orang tua. Namun mau bagaimanapun, jangan sampai kamu kehilangan diri sendiri. Dirimu lebih besar daripada kesedihan dan ketakutan-ketakutan tak berdasar. 

Kalau hatimu dilukai kekasihmu, kecewa karena dikhianati, merasa hina karena dicampakkan, dan merasa tak berguna karena tak dihargai, jangan menyerah, Ning! Esok hari, kita akan jauh lebih kuat lagi selama kita mau belajar dari masa lalu. Ingat, Ning. Jangan biarkan masa lalu mempecundangimu dan masa depan menciutkanmu!

Dan kamu tahu Ning, siapakah yang tak mungkin memberimu janji palsu, meninggalkanmu, menyakitimu, mengecewakanmu? Dialah Allah SWT.

Penyelamat

Yang dia bicarakan bukan merk 
handphone terbaru, film yang baru keluar di bioskop, isu LGBT, Brexit, koruptor buronan negara atau konflik Natuna. Yang seringkali dia bicarakan adalah, "Besok, anak-anak ini mau dikasih makan apa?"

Orang-orang seperti Pak Puger itu ajaib. Mengurus dan merawat anak-anak penderita HIV/AIDS. Pekerjaan yang berat baik secara fisik maupun psikis. Tidak kalah melelahkannya dengan pekerjaan-pekerjaan robot berdasi di pusat kota sana. Pekerjaan yang kalau bisa, setiap manusia zaman sekarang terhindar darinya. Apakah hina? Tidak. Apakah buruk? Juga tidak. Tapi pokoknya kalau bisa, setiap orang tua menganjurkan untuk tidak menjadi seperti mereka (minimal menjaga jarak dengan mereka). Seolah-olah karena masa depannya tidak cerah karena terlampau dekat dengan salah satu penyakit paling mematikan di planet ini dan tak ada yang bisa dibanggakan dari pekerjaan semacam itu. Ya minimal jadi PNS sajalah, syukur-syukur jadi karyawan kantoran yang gajinya jelas dan ruangannya ber-AC. Soalnya kalau tidak begitu, mana bisa punya rumah, mobil, dan tabungan? Mau jawab apa kalau ditanya saudara-saudara pas lebaran?

Tapi banyak manusia zaman sekarang lupa bahwa aktivis-aktivis tersebut lebih unggul dalam kualitas jasmani dan rohaninya. Biar sering bersinggungan langsung dengan penderita HIV/AIDS, usia 42 tahun masih berdiri tegap dan sigap. Setiap momen juga ia syukuri dan gunakan sebaik mungkin untuk tidak menyia-nyiakan apa yang sudah Tuhan karuniakan pada manusia. Bayangkan, sambil cekikikan, ia menceritakan tentang beberapa anak asuhnya yang meninggal. Lalu dia dan malaikat ketawa cekikikan bersama-sama. Padahal kalau dipikir-pikir, kehilangan seseorang itu kan bisa sangat menyedihkan? Kok ya bisa anak asuhnya meninggal tapi masih bisa tersenyum dan melanjutkan hidup? Ah, mungkin karena mereka memandang kematian sebagai sesuatu yang agung dan mulia. Seperti kata Sudjiwo Tedjo, "Esensi Innalillah bukanlah Turut Berduka Cita seolah-olah kehidupan dunia ini adalah segala-galanya, tapi dari Tuhan kembali ke Tuhan. Dengan menyebutkan Turut Berduka Cita, maka di mindset-mu kehidupan di dunia adalah segala-galanya. Sayang banget kalau meninggalkan dunia. Kita harus mengajar dan mengingatkan keluarga yang ditinggalkan, bahwa kematian itu suci."

Di sisi lain, beberapa diantara kita bersedih hati karena belum mampu beli handphone keluaran terbaru. Beberapa diantaranya mengutuki keadaan karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Beberapa diantaranya lagi sedang menangis sendu mengeluhkan dirinya yang tidak bisa move on dari pacarnya yang ganteng/cantik. Itukah yang kita harapkan dari hidup ini? Mengejar kemewahan daripada kemuliaan? Menyia-nyiakan kemampuan manusia untuk bersyukur dengan keadaan?

Kemudian ia sejenak berdiri dan menyapu pandangan ke kerumunan anak-anak itu. Menatap lembut wajah polos anak-anak asuhnya satu persatu. Perasaan kasih sayang dan optimisme tergambar di wajahnya yang lelah. Di kantung matanya yang menebal. 

Menjadi Lelaki

"Mas, kalau ada perempuan yang bisa membuat mas lebih rajin ibadahnya. Bisa meluruhkan kebiasaan buruk mas. Bisa membuat hidup mas jadi lebih baik lagi. Bapak mau kok membantu mas untuk memperjuangkannya." Tiba-tiba ucapan bapak memecah kebisuan yang sudah satu jam ini melanda kami.

"Maksudnya?" Aku masih belum paham mengapa sepagi ini, bapak tiba-tiba mengajakku bicara hal itu. Atau mungkin, ibu memberitahu bapak tentang keinginanku untuk menikah muda? Entahlah. Yang jelas, terlihat dari raut wajahnya, bapak sedang ingin berbicara serius denganku kali ini. 

"Mas minta izin dulu sama dia. Kalau dia mengizinkan, nanti kita datang kerumahnya. Kita temui orang tuanya, minta izin untuk melamarnya dan segera menikah, kalau mas niatnya memang biar menjauhi zina." Jawab bapak santai. "Urusan kerjaan yang belum mapan atau uang yang belum cukup, nanti insha Allah bapak bantu sedikit-sedikit. Nanti dibantu juga sama Allah." 

Aku mulai paham kemana bapak menggiring pembicaraan ini. Sebagai seorang bapak yang jarang bertemu dengan anaknya, kegiatan apapun akan dijadikan sebagai quality time untuk saling berbicara mengenai apapun. Tentang kesibukan pekerjaan di kantor, tentang adik yang baru saja mengenal cinta pertamanya, tentang ibu yang selalu tenggelam dalam sinetron di TV, sampai tentang kasus pembunuhan dan dekadensi moral remaja yang sedang marak diberitakan di koran-koran. Kali ini, sambil mencuci mobil, bapak mengajakku bicara lebih dari seorang bapak pada anaknya. Ia mengajakku bicara sebagai seorang laki-laki dengan laki-laki.

Bapak berdehem, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Mas, kalau dia bisa membuat pribadi mas jadi lebih bermanfaat. Kalau dia bisa mencambuk semangat mas dan menahan ego mas yang kadang nggak terkontrol itu. Kalau bersamanya, mas merasa bisa lebih dekat sama kebaikan. Kalau bersamanya, mas bisa lebih dewasa dan mengasihi orang lain. Jangan sekali-kali berhenti memperjuangkannya sampai dia bilang ke mas bahwa dia nggak mau diperjuangkan sama mas." 

Aku terdiam. Menanti kalimat yang akan dilontarkan bapak selanjutnya.

"Mas, perempuan manapun pasti ingin mendapatkan laki-laki yang paling bisa menghargai dan menghormatinya. Kalau mas sudah memberikan penghargaan dan penghormatan terbaik, maka perasaan cinta akan otomatis mengikuti. Perempuan manapun bisa mencintai mas. Kalau sudah begitu, jadilah laki-laki yang baik. Jangan suka memberi harapan palsu pada sembarang perempuan. Kaya zaman bapak dulu kuliah, banyak teman perempuan yang suka sama bapak, tapi bapak tetap milih ibumu. Yang lain bapak cuekin aja. Hebat kan?" Bapak tertawa. Memamerkan pengalaman masa lalunya. Membiarkan aku berpikir hebat. Aku rasa, bapak mana lagi yang seperti bapakku. Yang paling paham tentang bagaimana menjadi laki-laki sejati dan selalu mengajarkanku tentang bagaimana cara memuliakan perempuan.

"Mas, kalau ternyata dia mengizinkan mas untuk memperjuangkannya, lakukan dengan ikhlas. Mungkin kita memang sudah mengusahakannya dengan sungguh-sungguh, tapi bukan berarti dia sudah pasti jadi istri mas selanjutnya. Tugas mas cuma berusaha dan berdoa, setelah itu pasrahkan pada Allah. Dia yang Maha Tahu. Paham kan makna surat Al Baqarah ayat 216?" 

"Alhamdulillah, paham pak." Jawabku singkat.

"Dari kecil, bapak ngajarin mas untuk bersikap ksatria, maka berjuanglah dengan cara ksatria yang terhormat. Jangan sekali-kali menjatuhkan kehormatan diri sendiri, apalagi menjatuhkan kehormatan orang lain. Gengsi itu perlu, asal tidak berlebihan. Jangan meninggikan sesuatu sampai merendahkan diri sendiri dan jangan merendahkan sesuatu karena ketinggian kita. Dan cara paling terhormat untuk mencintai perempuan ya dengan menikah, mas."

Aku masih terdiam. Meresapi tiap kata yang dilontarkan bapak.

"Mas udah punya pacar? Atau sudah ada perempuan yang lagi ditaksir?" tanya bapak tanpa tedeng aling-aling. 

Aku tersenyum tipis. Menggelengkan kepala. "Insha Allah aku nggak pacaran lagi pak. Lagi nggak deket sama siapa-siapa juga. Ada sih yang lagi aku taksir, tapi entahlah. Masih belum yakin itu cinta beneran atau cuma kekaguman sementara aja."

"Ah, segera pastikan perasaanmu mas. Salat istikharah sama tahajjud. Minta kemantapan hati. Kalau memang mantap dia orangnya, bilang bapak. Kalau ternyata bukan, bilang bapak juga. Nanti bapak kenalin ke anak teman bapak." Jawab bapak sambil menyeka keringat di dahinya yang keriput.

"Maksudnya?"

"Iya. Nanti mas bapak jod-"

Belum sempat bapak menyelesaikan kalimatnya, lamat-lamat terdengar suara ibu memanggil dari dalam rumah. Menawarkan pisang goreng dan teh hangat sebagai "upah" mencuci mobil pagi ini.













Tentang Karma

"Awas aja. Karma does exist!"
"Biarin aja. Biar dia mampus kena karma!"
"Semoga kena karma, deh. Biar tahu apa yang kurasain."
"Kalau bukan dia yang kena karma, paling juga kena adiknya atau keluarganya."

Jujur saja, aku agak miris dengan kalimat-kalimat seperti itu. Entah bagaimana mekanismenya, Karma kerap dijadikan alasan orang-orang yang sakit hati untuk menghibur diri. Makna karma seakan-akan dipersempit hanya untuk mencari pembenaran tindakan mereka saja. Bahkan, seringkali mereka menggunakan istilah "Karma" untuk menyalahkan orang lain atas rasa sakit hati yang kadang mereka buat-buat sendiri. Mereka terlalu sibuk untuk menyalahkan orang lain, sampai lupa bertanya pada diri sendiri, "Sebenarnya, apa yang sudah aku lakukan selama ini, sampai aku mendapatkan balasan seperti itu?" 

Hei! Bukankah semua makhluk hidup bertanggung jawab atas perbuatan mereka, beserta akibat yang ditimbulkan olehnya? Bukankah kamu sendiri yang memaksa membawa-bawa ayat Tuhan bahwa Ia akan memberikan balasan atas kebaikan atau kejahatan sekecil apapun itu? Lalu, mengapa kamu malah meninggikan suara untuk menyalahkan, daripada merendahkan hati untuk saling mendoakan kebaikan? Dengan logika yang kontradiktif seperti itu, apakah Tuhan yang Maha Perasa akan setuju dengan sikapmu?

Berhentilah playing the victim. Berhentilah berpura-pura menjadi korban dan mencitrakan diri seolah-olah dirimu adalah yang paling terdzalimi. Berhentilah menggiring opini orang-orang terdekatmu untuk berempati kepadamu dan mengikuti langkahmu menyalahkan orang lain. Hentikanlah dramaturgimu dan mulailah memberikan cinta dan makna pada orang lain lewat hal-hal kecil yang bisa kamu lakukan. Mulailah mendoakan kebaikan pada orang lain. Ingatkah kamu kapan terakhir kali kamu mendoakan kebaikan untuk orang lain? Atau hari-harimu habis untuk mengharapkan jatuhnya hal buruk pada orang lain?

Benar atau tidak, menurutku, yang terpenting dari menghadapi masalah adalah tindakan kita sendiri. Bukan mengharapkan balas dengan mengutuk orang-orang yang kita anggap salah menggunakan "Karma". Dan jika memang karma itu benar adanya, bukankah lebih baik bila kita berfokus pada cara terbaik memberi cinta, agar "Karma" memberikan cinta itu kembali pada kita?

Singwisyowis

Setelah sekian lama, aku kembali mendengar suara yang sangat kukenal. Tidak banyak yang dibicarakan. Lebih banyak diam, tenggelam dalam kedalaman pikiran masing-masing. Namun, ia tidak kunjung menutup teleponnya. Entah apa alasannya. 

Terkadang, yang telah lama diikhlaskan pergi, akan menjadi kurang nyaman jika datang kembali. Ada semacam perasaan kecewa dan ingatan yang datang diwaktu yang kurang tepat.

Tolong, tidak usah kembali lagi dengan alasan "masih peduli." Jika kamu masih peduli, kamu tidak pernah memilih untuk pergi. Orang yang dulu kamu tinggalkan, sekarang sudah mulai tumbuh dan kembali berdaya.

Duh Gusti

"Duh Gusti..." Keluhku sambil mengacak-acak rambutku sendiri. 
Kemudian aku memejamkan mata dan melirik ke arah Tuhan. 
Ia hanya tersenyum penuh makna dan mulai berkata:

"Tenang aja, Le. Lulus, lulus.. Dapet kerja, dapet kerja.. Bisnis lancar, bisnis lancar.. Punya jodoh, punya jodoh.. Fokus aja sama yang ada di depanmu itu."

Aku kembali membuka mata, lalu tersenyum tenang dan menang. 

Bila Hari Ini Malaikat Maut Datang Mengunjungi Kita



Bila hari ini malaikat maut datang mengunjungi kita, tanpa salam dan sapa. Bila hari ini adalah batas terakhir yang diberikan Tuhan kepada kita untuk hidup di dunia, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita datang menemuinya dengan pipi merah merona dan senyum ceria, atau malah dengan kekalutan dan pasrah yang terpaksa? 

Bila tiba-tiba utusan Tuhan itu datang tanpa kita sangka, kemudian ia duduk di sebelah kita. Sudikah ia bersikap manis pada kita? Menatap mesra mata kita, mengusap halus rambut kita, kemudian sembari mendekatkan diri ke telinga kita, ia berbisik lembut, "Bismillahirrahmanirrahim... inilah saatnya, teman. Tuhan sudah menunggumu." Ataukah ia akan datang dengan wajah beringas? Menatap mata kita dengan jijik, memegang tubuh kita dengan amarah, cakar-cakar tajamnya seakan menusuk kulit sampai ke lapisan terdalam. Sambil menahan muntah ia berkata, "Inilah saatnya, wahai manusia tak tahu diri! Bersiaplah! Ini akan sangat menyakitkan. Me-Nya-Kit-Kan!"

Lalu apabila waktu itu datang. Malaikat maut mulai menjalankan tugasnya. Kemudian kita dapat merasakan sakit yang teramat sangat dari ujung kaki kita, sedikit demi sedikit naik sampai lutut, kemaluan, berlanjut hingga perut. Kalimat apa yang akan kita ucapkan? Akankah terucap maaf untuk orang tua kita atas semua kecewa yang kita beri? Akankah terucap maaf untuk teman-teman kita yang sering kita gunjing dan sebarkan keburukannya? Akankah terucap maaf untuk Tuhan, atas taubat-taubat yang selalu tertunda? Atau bibir kita hanya mampu mendesis lirih menahan sakit yang tak terkira, kemudian sesekali memaki, "Bangsaaaaat! Sakiiiit Anjiiiinggg!"

Bila kemudian rasa sakit itu terus menjalar keseluruh tubuh kita. Ia mulai bergerak naik ke dada, lalu perlahan menuju tenggorokan, menyisakan nafas yang tinggal beberapa hembus lagi. Akankah ingatan atas dosa-dosa, menari-nari di depan mata kita? Akankah kita bernegosiasi dengan Tuhan, meminta tambahan waktu barang sehari-dua hari saja? Akankah kita merengek dan menangis kepada Tuhan untuk menunda janji-Nya barang beberapa jam saja? 

Bila, ini bila. Bila Ternyata Tuhan berbaik hati memberikanmu waktu tambahan selama tiga jam saja, apa yang pertama kali akan kamu lakukan? Akankah kamu menceritakannya ke semua orang yang kamu kenal? Akankah kamu buru-buru menulis kisahmu dalam laptop? Akankah kamu mengambil smartphone-mu untuk selfie sambil menuliskan status, "Baru saja selamat dari malaikat maut, nih."? Akankah kamu mengirim SMS kepada kekasihmu untuk datang ke rumah dan memberikan sebuah pelukan? Ataukah kamu ingin mengambil wudhu dan alat salat di tumpukan paling bawah dalam lemarimu, kemudian melaksanakan salat yang sudah lama kamu tinggalkan? Ataukah kamu ingin membuka kembali Al-Qur'an yang sampulnya sudah lusuh, tertutup debu tebal? Ataukah kamu ingin bersujud dan menciumi kaki ibumu? Atau bagaimana?! Apa yang akan kamu lakukan?!

"Tiap-tiap yang bernyawa, pasti akan merasakan mati." (QS. 3:185)

Tiba-tiba semua menjadi gelap. Tidak ada lagi kerling mata yang menarik hati. Tidak ada lagi bibir tipis yang menggoda untuk dicucupi. Tidak ada lagi rambut indah yang selalu disisiri. Tidak ada lagi wajah yang selalu dikagumi. Tidak ada lagi dada yang selalu mengundang birahi. Tidak ada lagi pinggul yang menantang untuk digerayangi. Tidak ada lagi kemaluan yang ditutupi. Tidak ada lagi betis indah yang hanya membuat iri. Hanya ada seonggok daging berbentuk tubuh manusia, berwarna pucat kebiruan. Tanpa busana. Tanpa suara. Tanpa tenaga.

Bila hari itu datang, aku, kamu, dan kita, harus menghadapinya!

Matamu

Sesekali, aku ingin berubah menjadi sepasang bola matamu. Aku ingin mengetahui hal apa saja yang kau suka dan tidak suka, juga caramu memandang dunia. Aku ingin belajar memahami rasa sedihmu dan caramu berusaha tegar menutupinya. Aku ingin membaca apa yang kau baca dan melihat apa yang kau lihat. Aku ingin lebih dulu terjaga sebelum adzan subuh tiba dan terpejam lebih cepat saat harimu melelahkan. Aku ingin mengerti rasanya menjadi matamu dan mencari tahu adakah debar yang turun ke hati saat kamu melihatku.

Dek, mungkin sekarang belum saatnya aku bisa mencintaimu seperti itu. Berani mencintaimu, berarti juga harus berusaha mengerti semua tentangmu. Aku memang harus mengerti, untuk bisa menyelami lautan pemikiranmu atau sekadar menari-nari di taman perasaanmu. Aku pernah berimajinasi, bisa memiliki memory card dengan kapasitas tak terhingga, tertanam di mataku. Aku ingin menyimpan semangat yang terpancar dari sorot matamu dan keanggunan yang tertanam rapi di senyummu.

Dek, Aku memang menyukai matamu, tapi aku lebih menyayangi mataku. Aku harus menjaga mataku, biar aku bisa melihat matamu dan menyimpan senyummu. Lalu akan kumainkan berulang-ulang saat hariku sendu.

Menjadi Tua Bersamamu



Assalamu'alaikum.

Ka, malam ini aku baru saja melihat kembali video yang aku buat sekitar dua tahun lalu, saat aku belum mengenalmu. Aku masih ingat bagaimana peningnya kepalaku saat menggambar ratusan scene itu dan menatanya satu persatu agar ia terlihat bergerak dan hidup. Dalam ilmu videografi, teknik itu disebut stop motion. Dibantu oleh seorang temanku, aku menyelesaikan project itu dalam satu bulan. Selama itulah aku merelakan jam tidurku berkurang untuk hal yang aku harap mampu membuat siapapun yang melihatnya tersipu malu. Semoga saja.

Sejak kali pertama aku mendengar lagu "I Wanna Grow Old With You" yang dinyanyikan oleh Adam Sandler dalam sebuah film lawas, aku berniat membuat dan menyimpan video yang berdurasi tak lebih dari dua menit ini untuk kemudian kuberikan kepada seseorang yang menurutku benar-benar berhak mendapatkannya.

Waktu membawaku padamu.

***

Ingatanku terlempar ke hari-hari pertama saat kita saling belajar jatuh cinta. Kamu menjadi mahasiswi semester satu yang polos dan lugu, sementara aku menjadi mahasiswa semester tujuh yang sok dan belagu. Kita bertukar senyum dengan malu-malu. Beberapa bulan kemudian, kita saling bertelepon penuh canda. Baru berhenti jika salah satu dari kita kehabisan pulsa.

I wanna make you smile,
Whenever you are sad.
Carry you around,
When your arthritis is bad.
All I wanna do is grow old with you.

Aku ingat saat kali pertama aku mengantarmu pulang dari sebuah acara keakraban mahasiswa baru yang diadakan oleh pihak kampus. Dingin udara malam tidak mampu meredam panas-dingin tubuhku yang gugup saat kamu merapatkan tubuhmu ke tubuhku.
      
"Jalannya pelan-pelan. Aku takut!" katamu setengah berteriak, mencoba mengalahkan bising suara knalpot motor yang lalu lalang di jalan yang kita lewati.
       
"Siap, mbak! tukang ojek mah nurut apa kata penumpang biar dibayar mahal!" candaku sambil perlahan-lahan memperlambat laju motorku.

Mungkin kamu tidak sadar, Ka. Sering aku memperlambat laju motorku saat mengantarmu pulang. Itu ulah rinduku yang menolak perpisahan. Sebab ketika kita sampai di depan kost mu, melihat punggungmu hilang ditelan gerbang yang menutup, kemudian pergi setelahnya, dengan keterlaluannya rindu langsung menampilkan diri.

Begitulah, betapa aku ingin berlama-lama memboncengmu dan membicarakan hal-hal ringan diatas sepeda motorku.

Kalau kau tahu, Ka. Denganmu, aku mulai berhenti mengutuk kemacetan lalu lintas dan mulai belajar menikmatinya. Karena setiap detik bersamamu kunikmati.

I'll get you medicine when your tummy aches
Build your fire if the furnace breaks
Oh, it could be so nice growing old with you.

Ka, ingatkah kamu saat kamu secara tiba-tiba meneleponku tengah malam, mengeluhkan perutmu yang sakit dan kepalamu yang terasa berat? Dari suaramu, aku bisa menebak bahwa kamu sedang menahan sakit yang teramat sangat. Mungkin saat itu kamu juga sedang menahan tangis. Ka, detik itu, kamu berhasil membuatku ketakutan!

Saat itu aku sedang lembur mengerjakan skripsi yang harus aku serahkan kepada dosenku keesokan hari. Mendengar kabarmu, aku segera berganti pakaian dan menyiapkan motor bututku untuk kemudian menuju minimarket terdekat dan membelikanmu beberapa buah biskuit, sekaleng susu, dan sekotak obat. Sampai di depan kost-mu, aku baru tersadar bahwa aku tidak sempat mengenakan jaket. Kau bisa bayangkan, hawa dingin kota ini menusuk hingga ke sumsum tulangku, menggigilkan tubuh kurusku. Meski aku tahu bahwa angin malam tidak baik untuk kesehatanku. Tapi, mendengarmu menahan sakit, aku menjelma menjadi tokoh superhero yang tidak mempedulikan dingin, panas, atau apapun yang menghambat pertemuanku denganmu. Aku ingin menjagamu sedemikian rupa. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.

I'll miss you
Kiss you
Give you my coat when you are cold

Need you
Feed you
Even let you hold the remote control

Ka, bukankah jatuh cinta berarti bicara tentang pengorbanan? Bukankah jatuh cinta berarti bicara tentang keberanian yang muncul entah darimana datangnya? Bukankah seseorang yang sedang jatuh cinta, sering melakukan hal-hal yang tidak masuk akal hanya untuk mendapatkan perhatian? Bukankah jatuh cinta berarti bicara tentang keikhlasan mengurangi ego dan memperluas sabar?

Bagi seorang lelaki, jatuh cinta berarti keberanian menghalau kecoa, cicak, atau apapun yang membuatmu menjerit ketakutan. Bagi seorang lelaki, jatuh cinta berarti sudi menahan dingin karena berbagi jaket dan mengenakannya ke tubuhmu saat melihatmu mengigil. Bagi seorang lelaki, jatuh cinta berarti menggenggam tanganmu saat menyeberang dan berjalan di sisi luar jalan hanya untuk melindungimu. Bagi seorang lelaki, jatuh cinta berarti menyediakan bahunya yang tidak begitu bidang sebagai tempatmu menangis, memasang telinga untukmu menceritakan lelucon yang sama berulang-ulang, dan pelukan-pelukan untuk menenangkanmu yang terkadang berpikir kejauhan.

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you've had too much to drink

Ka, aku bahagia bisa membuat video ini dan memberikannya untukmu. Aku bahagia bisa menuliskan surat ini meski aku ragu kamu memiliki waktu untuk membacanya. Sesekali, izinkan aku merasakan kembali lembut telapak tanganmu saat kamu menyalamiku sambil berkata, "Ih, kamu.. Terima kasih... Terima kasih... Aku suka banget.. Ini manis banget...". Izinkan aku melihat kembali matamu yang sembab, tapi bahagia itu.

Sementara aku merindukan wajahmu yang tersenyum manis dan memperlihatkan lesung pipit di pipi merah mudamu itu, lagu dalam video ini sudah sampai di bagian terakhirnya.

Oh, I could be the man... who grows old with you..
I wanna grow old with you..

Kamu boleh menganggapku aneh, Ka. Kamu boleh menganggap semua ini tidak masuk akal. Tapi aku tidak pernah memutuskan kepada siapa aku bisa jatuh cinta. Ia mengalir begitu saja seperti rintik hujan yang membasahi bumi, kemudian bermuara di kedalaman matamu. Sejak jatuh cinta kepadamu di usia yang masih terlalu muda, aku memang selalu bukan seperti lelaki biasanya. Aku harus memiliki tujuan jangka panjang. Aku harus mempersiapkannya dari sekarang.. Aku harus mempersiapkannya dari sekarang..

Ka,
Aku mencintaimu.
Aku ingin menjadi tua bersamamu.

Wassalamu'alaikum.


BA(L)IKAN

Bersamamu, aku merdeka. Pun juga kau terhadapku; tanpa undang-undang, tanpa rambu-rambu, dan palang.

Kau bisa menjadi gunung yang kusanjung dan menjadi laut, tempat rasaku berenang. Atau menjadi kertas, tempat dimana puisi-puisiku menetas. 

Sebenarnya, selama kita merasa bahagia, kita bisa menghias dunia kita dengan penuh rasa dan cerita.

Tidak perlu lah kau marah padaku, lewat bahasa tubuhmu yang bicara tanpa suara dan aksara itu.

Mataku dan matamu memang bertatap pandang, tapi mulutmu tetap tertutup malas. Memaksaku masuk kedalam dimensi kesunyian, dimana aku menjadi orang asing bagimu. 

Kau yang berbuat salah, kau juga yang marah. Perasaanmu yang kalah, tapi tetap aku yang harus mengalah. Ah, dasar perempuan. 

Lalu, bagaimana?