Diet Smartphone
23.58
Oleh: Latif Hendra S.*
Sudah beberapa hari
ini aku menon aktifkan beberapa media sosial yang aku punya.
Banyak sekali orang yang bertanya kenapa aku memutuskan untuk melakukannya. Ada
yang mendukung, ada pula yang menyayangkannya. Ada pula yang mencemooh bahwa
aku hanya ingin dicari, hanya ingin cari perhatian, pencitraan, omong doang, lebay, dll.
Jadi, dalam tulisan
ini, aku ingin memberikan alasannya. Semoga bermanfaat.
***
Aku mempunyai
banyak sekali teman di media sosial, tapi aku kesepian. Ya, aku kesepian.
Hampir setiap hari
aku berkomunikasi dengan mereka di media sosial. Kami mengobrol ringan, berbagi
foto atau kegiatan yang sedang dikerjakan. Sedapat mungkin aku selalu keep in touch dengan teman-temanku walau
hanya sekedar memberi komentar, atau memberi like pada posting-an
mereka.
Sampai suatu hari,
aku berpikir bahwa sesungguhnya pertemuan yang baik adalah pertemuan yang
melihat mata, mendengar kata, dan memahami makna. Selalu ada perasaan yang
berbeda ketika menatap langsung mata lawan bicara dibandingkan dengan melihat
nama orang yang tertera di layar, beserta gambar dirinya yang terbaik sebagai
foto profil.
Kemudian, aku
mencoba membuka mata dan melihat keadaan di sekelilingku. Tidak dapat
dipungkiri lagi, kita tidak akan bisa lepas 100% dari media sosial. Tapi
pernahkah kita berpikir, ketika kita mulai membuka gadget untuk melihat dunia, sebenarnya kita sedang menutup pintu
dunia kita yang lain? Semua tatanan yang tercipta dari teknologi canggih ini
hanyalah sebuah ilusi; pertemanan, persahabatan, kekeluargaan, kebersamaan.
Semuanya!
Awal aku melakukan
program diet smartphone ini, aku
melihat dunia yang sangat membingungkan. Kita seakan diperbudak oleh teknologi
yang kita ciptakan sendiri. Dunia dipenuhi dengan pencitraan, promosi diri, dan
kepentingan pribadi yang menimbulkan sikap apatisme terhadap orang lain. Kita
menjadi generasi yang haus akan pengakuan. Saling menjatuhkan satu sama lain
lewat debat-debat di dunia maya, memaksakan diri untuk mengikuti trend yang
sedang hits dan kekinian, memasang
foto selfie, memamerkan ketampanan
dan kecantikan untuk berlomba-lomba mendapatkan likes dan pujian: “cantik kak”, “followback kak”. Bah! Bahkan ada selentingan iseng yang muncul
bahwa standard hits atau tidaknya
seseorang, ditentukan oleh adanya iklan-iklan online shop di akun media sosial mereka. Dunia macam apa ini? Kita
terlalu sibuk membanggakan diri sendiri dan mengharapkan pujian orang lain,
sampai tidak sadar bahwa kita sedang terasing di kehidupan sosial.
Ada kalanya pula
kita sedemikian rupa merangkai kata hingga terlihat bahwa hidup kita indah dan
baik-baik saja. Mencomot quote-quote dari tokoh ini dan itu yang
membenarkan hati kita bicara walau terkadang kita sendiri tidak pernah tahu
siapa tokoh yang ucapannya kita kutip itu sebenarnya. Mengikuti
pemikiran-pemikiran official account
galau dan egois yang melemahkan mental. Menceritakan permasalahan-permasalahan
hidup kita yang sepele ke lini masa, sampai kita lupa bertanya, “Apakah orang
lain peduli?”
Belum lagi
permasalahan saling judge satu sama
lain. Omongan di media sosial lebih dianggap serius daripada di dunia nyata.
Kebenaran menjadi abu-abu karena kita bebas membentuk citra diri. Kita senang
mencari teman baru, padahal mereka tidak sepeunhnya mengenal kita dan kita juga tidak sepenuhnya mengenal
mereka. Munculah stigma-stigma dan anggapan miring akibat ekspektasi yang
melenceng dari seseorang tentang diri kita.
Aku merindukan
masa-masa dimana aku mendatangi teman-temanku atau mereka mendatangiku. Kita
berteman tanpa punya kepentingan. Lalu kita merasa menjadi manusia yang paling
tampan dan bahagia ketika saling berbagi pengalaman. Saling menyediakan
sepasang telinga yang utuh dan jiwa yang penuh terhadap apa yang diceritakan
oleh lawan bicara, sekonyol apapun cerita itu. Tidak mudah terdistraksi oleh
“teman-teman lain” di luar sana. Menceritakan pengalaman saat liburan dengan
mata berapi-api dan menunjukkan foto-foto yang sudah tersusun rapi dalam album
yang mampu membawa para pendengarnya seakan masuk dan ikut dalam perjalanan
tersebut. Aku pikir itu lebih menyenangkan daripada mengetahui cerita teman
kita lewat postingan-postingan yang
mereka unggah di Path. Aku merindukan sensasi rasa ingin tahu dan penasaran
yang nyata. Aku lebih memilih tidak tahu lalu mencari tahu daripada sudah tahu
tapi bersikap tidak mau tahu.
Saat aku kecil,
dapat dikatakan aku jarang ada di rumah. Selalu bersepeda bersama teman-teman
mengitari kompleks perumahan. Kadang aku terjatuh, tangan lecet-lecet, kulit
kaki mengelupas, kemudian menangis. Tapi anehnya, aku tetap mengulanginya. Luka
tidak bisa merebut kebahagiaanku. Imajinasi bebas mengalir tanpa takut
anggapan-anggapan aneh dari orang lain. Tawa seakan tak pernah lepas dari sudut
bibir mungilku. Satu-satunya hal yang bisa menghentikanku adalah teriakan Ibu
menyuruhku pulang untuk mandi dan pergi shalat maghrib ke masjid.
Sekarang,
taman-taman bermain sepi. Tidak ada anak-anak yang berlarian sambil
berkejar-kejaran, meloncat, berteriak, dan menangis karena terjatuh. Ayunan
tidak lagi terayun. Tidak lagi tergambar kotak-kotak permainan engklek di tanah pekarangan. Tidak ada
lagi raut muka anak-anak kecil mengintip kecil, menahan tawa, saat bermain
petak umpet. Sudah jarang ditemui anak-anak menghabiskan sorenya dengan kebahagiaan-kebahagiaan
remeh, receh. Mungkin seperti hal yang mustahil bagi orang tua sekarang untuk
dapat menghibur putra-putrinya tanpa menggunakan gadget canggih berisi ratusan permainan-permainan seru tapi
menyedihkan, menyendirikan.
Pada satu waktu,
aku juga merasa sedih ketika saudara sepupuku yang masih duduk di bangku SD,
lebih asyik bermain gadget-nya
daripada bermain dengan saudara-saudara lain yang notabene jarang bertemu jika
tidak Idul Fitri. Puncaknya, adalah pada saat aku diantarkan keluargaku ke
stasiun untuk kembali ke kota perantauan. Alih-alih menghabiskan waktu untuk
saling berbicara, mereka asyik dengan smartphone-nya.
Mereka lebih memilih berbicara dengan teman-temannya di grup WhatsApp daripada
dengan anaknya yang sebentar lagi meninggalkan mereka!
Lain waktu, aku
tidak tahan ketika melihat keheningan dalam mobil yang penuh sesak ketika aku
sedang melakukan perjalanan bersama teman-temanku. Masing-masing asyik dengan
dunianya sendiri. Di ruang tunggu stasiun, di kafe, di depan ruang dosen saat
menanti jadwal bimbingan, tidak seorangpun mengajak bicara orang di dekatnya
karena takut dibilang aneh. Kita duduk berdekatan, tapi hati kita jauh. Hampir
semua kepala tertunduk, memanjatkan doa ke hadirat smartphone yang Maha Kuasa. Mengutip perkataan salah seorang
temanku, “Kita ini adalah generasi-generasi idiot. Manusia bodoh membawa gadget canggih. Dumb people with smart phone.”
Kita menjadi anti
sosial, tidak lagi terpuaskan dengan hubungan interpersonal yang saling
bertatap mata. Aku takut anak-anakku, anak-anak kita, kelak dilahirkan dan
dibesarkan dengan melihat kita hidup layaknya sebuah robot (lebih parah lagi
jika mereka menganggap itu sebagai hal yang normal.)
Sendirian bukanlah
masalah, teman. Itulah intinya. Jika kamu berani jujur pada diri sendiri untuk
melakukan apa yang memang kamu sukai, kamu tidak pernah sendirian. Kamu akan
produktif dan tetap diakui secara nyata. Kamu akan sepenuhnya sadar dan
memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya. Jika kamu sedang berada di tempat umum
dan merasa kesepian, jauhkan tanganmu dari gadget-mu,
tengoklah ke kanan dan kirimu, ajaklah bicara manusia-manusia di sebelahmu.
Belajarlah hidup bersama, mulai dari hal yang sederhana.
Aku tidak
mengatakan dapat lepas 100% dari smartphone.
Aku masih membutuhkan informasi dari luar. Aku hanya ingin belajar lebih
menghargai orang di sekitarku karena aku sedang merasa kehilangan aku di dunia
nyata, dan aku ingin mencarinya, menjemputnya.
Aku tidak ingin
memaksa siapapun yang membaca tulisanku ini untuk mengikuti langkahku.
Perubahan datang dari diri sendiri. Sekarang aku ingin mencoba mengalihkan
perhatian dari smartphone-ku;
mematikan layarnya, mensenyapkan suaranya, lalu mulai menghidupkan lingkungan
di sekitarku, memberi makna bagi orang-orang di dekatku. Aku ingin memulai
hubungan yang nyata, untuk menunjukkan perbedaan yang diciptakan oleh sebuah
kehadiran. Itu saja.
***
Sementara waktu
ini, jika teman-teman membutuhkanku, silakan kontak ke:
- WhatsApp : 0838 663 17269
- SMS/Call : 0812 325 79569
- Email : latifhendra.s@gmail.com
Untuk beberapa
aplikasi seperti instagram (@latifhendra) dan blog (latifhendra.blogspot.com),
masih aku gunakan untuk berkarya.
Sampai
jumpa di dunia nyata!
*Penulis
adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya..
Mantan
Redaktur Pelaksana Majalah LPM Perspektif FISIP UB.
Mantan
Manajer Audio-Visual Indonesian Future Leader Chapter Malang.
0 comments