Reuni
07.50
Matahari senja mulai duduk di singgasananya. Hawa dingin seakan menggerayangi tubuh. Rintik hujan melengkapi teduhnya pertemuan kita sore ini. Setelah sepuluh tahun kita lulus dan meninggalkan kota ini, hari ini kita dipertemukan kembali oleh-Nya di tempat yang mungkin tidak pernah kita duga.
Aku bisa membaca rasa cinta yang masih terpancar dari sorot mata kita. Namun kali ini situasinya berbeda. Kau bersama suamimu, aku membawa istriku.
"Kamu ingat kafe ini, Ka?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.
Kepalamu tertunduk, kemudian mengangguk perlahan, dan tersenyum. Senyum yang sama saat pertama kali kita duduk berdua di kafe ini, di bangku ini.
"Kamu mau pesan apa?" Tanyamu.
"Teh tarik hangat saja, tanpa gula."
"Tumben tidak pakai gula? Dulu kamu selalu minta tambah gula?"
"Ah, itu kan dulu. Sekarang tidak saja." Jawabku.
Kika, Kika. Seandainya kamu tahu, betapa ingatan tentangmu akan selalu terasa manis meski aku tidak menambahkan gula ke dalamnya. Sepuluh tahun yang lalu, di kafe ini, ingatlah bahwa ada seorang lelaki yang sedang merasa bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu; aku.
0 comments