BA(L)IKAN
03.15Bersamamu, aku merdeka. Pun juga kau terhadapku; tanpa undang-undang, tanpa rambu-rambu, dan palang.
Kau bisa menjadi gunung yang kusanjung dan menjadi laut, tempat rasaku berenang. Atau menjadi kertas, tempat dimana puisi-puisiku menetas.
Sebenarnya, selama kita merasa bahagia, kita bisa menghias dunia kita dengan penuh rasa dan cerita.
Tidak perlu lah kau marah padaku, lewat bahasa tubuhmu yang bicara tanpa suara dan aksara itu.
Mataku dan matamu memang bertatap pandang, tapi mulutmu tetap tertutup malas. Memaksaku masuk kedalam dimensi kesunyian, dimana aku menjadi orang asing bagimu.
Kau yang berbuat salah, kau juga yang marah. Perasaanmu yang kalah, tapi tetap aku yang harus mengalah. Ah, dasar perempuan.
Lalu, bagaimana?
1 comments
tidak lain tidak bukan, ini seperti diriku
BalasHapus