Jika Kita Menikah Nanti

11.20

Jika kita menikah nanti dan aku membiasakan pola hidup sederhana pada keluarga kecil kita, apakah kamu akan menutup mata dari mereka yang memiliki rumah yang lebih megah, kendaraan yang lebih mewah, dan harta yang lebih berlimpah daripada aku? Apakah kamu juga akan menutup telinga dari para istri yang menceritakan penghasilan suami mereka yang lebih besar dariku? Atau mengabarkan bahwa mereka dibelikan ini dan itu oleh suami mereka?

Jika kita menikah nanti dan penghasilanku hari itu ternyata pas-pasan, apakah kamu akan tetap memandangku dengan senyum manakala aku pulang membawa segenggam rezeki yang kuperoleh dari pekerjaanku? Berapapun nilainya, apakah kamu akan tetap merasa bahagia?

Jika kita menikah nanti dan aku mati-matian berusaha mencari rezeki di jalan Allah di tengah-tengah zaman yang semakin menggila ini, apakah kamu akan tetap bersyukur dan mendukungku? Apapun pekerjaanku? Berapapun penghasilanku? 

Ini susah, lho?
Aku tidak ingin kamu menikah denganku hanya semata-mata karena cinta.
Kamu harus paham konsekuensinya. Kamu harus siap dengan segudang permasalahannya.
Apakah kamu sudah memikirkannya matang-matang?

Bukan maksudku mengajakmu hidup susah.
Aku hanya ingin mempersiapkanmu untuk menjadi perempuan mandiri nan tangguh.
Yang tidak mudah menyerah saat dihimpit masalah, Yang tak mudah mengeluh saat rapuh.

Bukannya aku tidak ingin memanjakanmu dengan kasih sayang.
Aku harus memastikanmu hidup tenang di hari tua.
Menikmati umur yang sisa seberapa dengan canda tawa.

Bukannya segala maumu tak ingin kupenuhi.
Tapi diluar sana masih banyak manusia yang tidak lebih beruntung daripada kita.
Bagaimana aku bisa leluasa membelikanmu barang ini dan itu, tapi masih banyak orang yang bingung mau makan apa mereka hari itu? Tidak, tidak! Aku tidak mau kita hidup tanpa tanggung jawab sosial seperti itu!

Aku ingin menikahimu karena Tuhanku menyuruhku begitu. Menikah denganku tidak menjamin kamu hidup bahagia. Aku ingin mengajakmu ke dalam hutan penuh marabahaya yang penuh dengan ketidak pastian nasib. Aku ingin mengajakmu ke dalam belantara hidup yang penuh petualangan mendewasakan. Niatkan ibadah, dan apa kata orang tidak akan jadi masalah. Hidup sederhana, tapi bukan sederhana yang tidak bisa apa-apa.

Pada akhirnya, aku akan menantikan waktu-waktu dimana kita duduk bersebelahan di halaman rumah, memandangi mendung langit yang sedang mencurahkan rahmat-Nya, menikmati suara jangkrik dan katak bersautan, sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan kue-kue lunak yang mudah kamu telan.

Silakan dipertimbangkan. Jangan lupa libatkan Tuhan.
Jika kamu mampu menjawab "Ya" dengan tabah terhadap seluruh pertanyaan dalam tulisanku ini, maka aku akan memperjuangkanmu.

Insha Allah..
Aamiin..

You Might Also Like

0 comments