"Ngaca Dulu Dong!"
10.16
"Diri sendiri aja belum bener, udah sok suci ngingetin orang lain! Ngaca dulu dong! Urusin diri sendiri aja dulu!"
Akhir-akhir ini, ucapan seperti itu sering kita dengar di lingkungan pertemanan kita sehari-hari, baik secara langsung maupun lewat kolom-kolom komentar di media sosial. Dari komentar-komentar yang dilontarkan, kebanyakan dari mereka merasa apa yang mereka lakukan bukanlah urusan orang lain, sehingga mereka tidak berhak untuk mengingatkannya. Yang terakhir membuat geger adalah kasus seorang perempuan pelaku penginjak bunga amaryllis yang di-bully netizen karena berkomentar sejenis itu.
Jujur, saya pribadi merasa risih jika ada seseorang yang berkata seperti itu.
Jadi seperti ini lho, mbak, mas.
Menurut saya, setiap manusia mempunyai kewajiban untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan.
Saya kira, setiap agama yang ada di muka bumi ini, tidak ada satupun yang mengajarkan penganutnya untuk berbuat buruk terhadap orang lain. Siapapun Tuhan yang kita sembah, tidak ada satupun yang mengajarkan hamba-Nya untuk berlomba-lomba dalam berbuat kerusakan.
Memang, setiap manusia sudah pasti tidak ada yang sempurna, suci, dan benar-benar luput dari dosa. Tapi bukan berarti kita, sebagai manusia, boleh membiarkan orang lain dalam berbuat dosa. Justru itulah nikmatnya. Orang lain menegur jika kita berbuat salah, dan kita mengingatkan orang lain jika mereka berbuat dosa. Bersama-sama saling bersinergi untuk berbuat lebih baik dalam mencari sebuah kebenaran hakiki.
Namun bukan berarti kita bebas seenaknya sendiri menyalahkan orang lain. Kita sebaiknya lebih dulu "berkaca" pada diri sendiri, karena manusia memang gudangnya salah. Dan dalam penyampaian pesan untuk mengajak pada kebaikan, menurut saya, sebaiknya juga menggunakan cara yang baik-baik. Saya yakin, kita mampu untuk melakukannya. Jangan menyalahkan orang lain, hanya karena dosanya berbeda dengan kita. "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui." (QS. An-Nur:19)
Coba bayangkan jika semua orang di dunia saling acuh, tidak ingin mengingatkan orang lain atas kesalahannya karena hanya takut dicap "sok suci"? Bayangkan jika semua orang di dunia tidak ingin ditegur hanya karena itu bukanlah urusan orang lain? Saya khawatir, ucapan-ucapan seperti itu hanya akan menimbulkan generasi-generasi mati hati. Generasi-generasi anti kritik. Generasi-generasi apatis.
Dalam hal ini, karena saya seorang muslim, Insha Allah saya akan terus berpatokan pada konsep Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Mengajak kepada kebaikan dan mencegah daripada keburukan). Dalam QS Al-Ashr (1-3) sendiri juga sudah disebutkan bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, serta saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran.
Maaf jika ada yang tersinggung. Bukan maksud saya untuk menggurui dalam menulis ini. Saya hanya menyampaikan pendapat saya. Teman-teman boleh setuju, boleh juga tidak. Mengingatkan orang lain tidak harus dengan cara menjatuhkan harga dirinya di depan orang banyak, bukan? Cukup ingatkan lewat private message, Insha Allah hasilnya akan lebih terasa daripada mencecarnya di kolom komentar, karena itu adalah salah satu cara untuk menjaga aib orang lain.
Semoga kita semua mampu mengambil manfaatnya. Semoga kita tetap saling mengingatkan kesalahan dan mengajak orang lain pada kebenaran, apapun resikonya. Umat manusia membutuhkan kita semua untuk bersama-sama menuju pada kebaikan.
Semoga kita semua mampu mengambil manfaatnya. Semoga kita tetap saling mengingatkan kesalahan dan mengajak orang lain pada kebenaran, apapun resikonya. Umat manusia membutuhkan kita semua untuk bersama-sama menuju pada kebaikan.
Mari berteman dan saling mengingatkan :)
Latif Hendra S.
0 comments