Latif Muda Meninggal Dunia
08.30
Hari ini, roh telah meninggalkan jasadku.
Terbujur...
Kaku...
Biru...
Dingin...
Aku bahkan sama sekali tidak mampu membantu, mengurusi jenazahku sendiri.
Aku hanya mampu menonton. Tidak lebih!
Ibu,
Aku sempat bersedih saat menyaksikanmu.
Aku sempat bersedih saat menyaksikanmu.
Hanya air matamu yang benar-benar jatuh.
Hanya hatimu yang benar-benar rapuh.
Sebab selama ini, kita tidak pernah benar-benar terpisah jauh.
Bapak.
Aku senang, air mata tidak hujan lebat di matamu.
Namun aku yakin, mereka sedang terjun bebas dalam batinmu.
Ah, biar saja.
Lagipula, aku juga tidak membutuhkannya.
Cukup doakan aku saja sehabis shalat atau ngajimu.
Bapak, Ibu.
Tolong sampaikan ucapan terima kasihku yang paling tulus,
kepada saudara-saudara yang telah sudi memandikan jenazahku,
yang telah sudi mengkafani tubuhku.
yang telah sudi menshalatkanku.
Maaf, kali ini aku tidak bisa menyampaikannya sendiri.
Bapak,
Coba peluk Ibu.
Jangan biarkan ia terus menerus menangis.
Sesungguhnya aku hanya meninggalkan dunia, bukan surga.
Aku tidak pergi. Aku hanya kembali.
Ini sudah waktuku, Pak, Bu.
Mau bagaimana lagi?
Lagipula, yang mati hanyalah jasadku.
Aku masih hidup di kenangan kalian masing-masing,
dengan segala baik burukku.
Oh ya,
Jangan lupa beritahu kawan-kawanku,
Latif muda meninggal dunia.
Sampai disini pemanasanku, kawan.
Setelah ini aku akan benar-benar pergi berpetualang.
Sendirian.
Maaf, aku tetap saja merepotkan kalian.
Tidak hanya sewaktu hidup, tapi setelah meninggal pun masih saja.
Terima kasih semuanya.
Aku tunggu bait-bait doanya, ya?
Sampai jumpa.
Latif Hendra S.
0 comments