Kemana Perginya Jilbabmu?
05.09
Hey, kenapa kamu melihatku seperti itu? Teringat sesuatu ya, saat melihat jilbabku ini? Jilbab lebar dengan model yang (katanya) kuno. Yang kubiarkan ia terjulur, membalut tubuhku apa adanya, dengan warna biru tosca yang monoton dan sederhana. Jilbab yang kupakai ini, kainnya mulai kusut. Warnanya pun juga mulai pudar. Kalau kau ingin lihat lebih dekat, beberapa jahitannya juga sudah ada yang mbredel. Benar-benar kuno memang.
Eits, tunggu sebentar. By the way, aku masih ingat bagaimana jilbabmu yang lebih lecek daripada milikku, lho!
Iya, jilbabmu yang sudah lama kita incar dan akhirnya mampu kita beli menggunakan uang tabungan. Bukan, bukan yang hitam. Yang satunya, yang coklat tua. Yang dulu kita beli bersama di Mall di sebelah kampus. Naaaah, akhirnya kau mulai ingat sekarang. Iya, jilbabmu yang jahitannya juga mbredel di mana-mana itu. Sama, kan? Atau malah lebih parah?
Siang ini, sepulangnya aku dari ke kampus, aku melihat jilbabku ini benar-benar kasihan. Warnanya biru tosca sebenarnya. Tapi, tadi pagi aku tidak sengaja menumpahkan kopi dan membuatnya basah. Membuat warna sejuknya yang mulai pudar, sedikit kotor terkena noda hitam. Tapi, melihatnya demikian, aku justru teringat nasib jilbab coklat tuamu itu.
Kau tahu?
Dulu, sebelum kita masuk ke kelas, aku selalu ingin berlama-lama menghadap cermin di toilet untuk merapikan jilbabku yang terkadang berantakan. Aku juga senang saat kamu memintaku merapikan jilbabmu yang sama berantakannya, "Namanya juga belajar, lama-lama juga rapi." katamu menenangkan. Aku masih ingat kebiasaanmu yang meniup-niup bagian atas jilbabmu yang terus melorot karena sedikit kebesaran, atau saat kau menyeka rambutmu yang kadang sedikit terlihat keluar. Dulu, aku sering sebal ketika kamu memamerkan jilbab barumu kepadaku. Dulu aku juga selalu mempercepat langkahku saat memasuki mushalla setiap kali kulihat sepatumu sudah tertata rapi di depan pintu. Bahkan, kita pernah ditegur dosen karena berlarian di koridor hanya untuk berlomba menuju mushalla. Hehehe. Lucu ya? Dulu.
Ah, dulu aku tidak pernah menganggap itu sebagai kenakalanmu. Aku tidak melihatnya sebagai keburukanmu. Justru malah kesederhanaanmu. Kebanggaanmu untuk tunduk dalam kebaikan. Memang masih pemula, mau bagaimana lagi? "Namanya juga belajar, lama-lama juga rapi". Ucapanmu itu terus terngiang di telingaku.
Hm, aku jadi semakin ingat bagaimana kesederhanaanmu saat awal kita berkenalan dulu. Bukan hanya jilbab "kuno"mu itu, tapi juga pakaianmu, gaya hidupmu, tutur katamu, dan kepalamu yang selalu menunduk dengan senyum malu saat kakak tingkat yang sedang tertarik padamu, ketahuan sedang curi-curi pandang ke arahmu.
Hey, penampilanmu dulu anggun sekali! Kamu tidak pernah peduli orang melihatmu seperti apa. Tidak peduli orang berkata apa. Yang penting, itu kamu. Dan aku suka itu. Itulah alasanku mengawali obrolan denganmu. Itulah awal dimana kita saling menemukan dan menggali lebih dalam tentang siapa kamu dan siapa aku. Mengisi hari-hari dengan tumpah ruah cerita kita. Menemukan seseorang untuk berbagi semuanya. Itu semua hanya karena, aku melihat kesederhanaanmu.
Hey, penampilanmu dulu anggun sekali! Kamu tidak pernah peduli orang melihatmu seperti apa. Tidak peduli orang berkata apa. Yang penting, itu kamu. Dan aku suka itu. Itulah alasanku mengawali obrolan denganmu. Itulah awal dimana kita saling menemukan dan menggali lebih dalam tentang siapa kamu dan siapa aku. Mengisi hari-hari dengan tumpah ruah cerita kita. Menemukan seseorang untuk berbagi semuanya. Itu semua hanya karena, aku melihat kesederhanaanmu.
Tapi, akhir-akhir ini aku tidak lagi melihatnya. Jilbabmu pergi entah kemana. Apalagi setelah kamu bertemu teman-teman baru yang mungkin lebih gaul daripada aku. Setiap kutanya, kau selalu mengelak. "Ah, cuma sekali ini saja, kok!" jawabmu ringan. Akhir-akhir ini juga kudengar kabar dari teman-teman tentang kedekatanmu dengan seseorang. Lelaki bermobil, mereka menyebutnya. Benarkah? Lalu mengapa kamu tidak menceritakannya kepadaku? Lalu mengapa kamu sampai berani melepas jilbabmu di tempat umum dan memamerkan rambut hitammu yang bergelombang indah itu? Apa kamu malu? Apa kamu merasa kuno dan kalah cantik daripada teman-temanmu? Atau malah, lelaki bermobil itu yang mengubahmu menjadi demikian?
Seperti aku merindukan jilbab lusuhmu itu, aku juga merindukan kesederhanaanmu. Seperti aku yang tidak pernah lagi melihat sepatumu terparkir rapi di depan pintu mushalla, aku tidak pernah lagi melihat keanggunanmu yang selalu kujatuhi rasa iri. Kita tidak lagi menyapa. Tidak lagi berbagi cerita. Tidak lagi saling mengenal.
Duniamu sudah berubah, teman. Namun, sebagai teman, aku berhak memberi tahumu, kan? Keputusan berjilbab bukan tentang cantik atau jelek. Gaul atau kuno. Ini tentang kebanggaan kita untuk tunduk pada kebaikan.
Selamat berproses dengan caramu, teman.
Aku akan tetap menunggumu, jika suatu hari nanti kau datang, entah kau ingin pamer jilbab baru atau dengan jilbab lusuhmu.
Seperti aku merindukan jilbab lusuhmu itu, aku juga merindukan kesederhanaanmu. Seperti aku yang tidak pernah lagi melihat sepatumu terparkir rapi di depan pintu mushalla, aku tidak pernah lagi melihat keanggunanmu yang selalu kujatuhi rasa iri. Kita tidak lagi menyapa. Tidak lagi berbagi cerita. Tidak lagi saling mengenal.
Duniamu sudah berubah, teman. Namun, sebagai teman, aku berhak memberi tahumu, kan? Keputusan berjilbab bukan tentang cantik atau jelek. Gaul atau kuno. Ini tentang kebanggaan kita untuk tunduk pada kebaikan.
Selamat berproses dengan caramu, teman.
Aku akan tetap menunggumu, jika suatu hari nanti kau datang, entah kau ingin pamer jilbab baru atau dengan jilbab lusuhmu.
0 comments